Advertisement
Prediksi Faisal Basri Viral Lagi, Gejolak Politik Picu Krisis Ekonomi
Resesi ekonomi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Prediksi mendiang ekonom senior Faisal Basri tentang potensi krisis pada 2026 kembali mengemuka seusai potongan pernyataannya viral, menyoroti titik rawan ketika gejolak politik bertemu tekanan ekonomi nasional.
Dalam sebuah diskusi di Komunitas Utan Kayu pada Mei 2024, Faisal Basri memaparkan kondisi ekonomi politik dalam negeri dengan menyoroti sejumlah kebijakan ekonomi Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Ia membaca adanya potensi benturan kekuatan politik antara Prabowo Subianto dan Jokowi yang pada Pilpres 2024 justru berada dalam satu barisan.
Advertisement
Pilpres 2024 memenangkan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI ke-8 dengan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, sebagai wakil presiden. Namun, menurut Faisal, kesatuan politik itu berpotensi retak seiring waktu berjalan.
"Nah, pada saat yang bersamaan terjadi konflik politik, saya rasa sebentar lagi Prabowo akan meninggalkan Jokowi. Jokowi-nya kecewa, macam-macam mulai tension. Nah kalau politik dan ekonominya menyatu, itulah krisis terjadi, yang saya perkirakan paling lama 2026," ujar Faisal pada Mei 2024.
BACA JUGA
Faisal menautkan proyeksinya dengan indikator ekonomi Indonesia dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Ia mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia terus melaju, tetapi menilai neraca transaksi berjalan serta tingkat pengangguran masih rentan.
"Filipina mirip sama Indonesia memang, ya rezimnya juga mirip-mirip kan," tuturnya saat itu.
Ia juga mengkritik arah kebijakan ekonomi pada era Jokowi, terutama strategi hilirisasi melalui ekspor nikel, batu bara, dan komoditas lain. Menurut Faisal, penguasaan smelter justru didominasi China.
Faisal membandingkan situasi itu dengan era Soeharto, ketika investor asing tetap membayar pajak. Sementara pada era Jokowi, investor asing justru memperoleh tax holiday.
"Jadi ini efek dari kebijakan-kebijakan yang ngawur itu. Yang kita ekspor, yang kita produksi itu makin tidak pakai otak, cuma pakai otot sama keringet doang. Itu yang punya konglomerat," ujarnya.
Faisal Basri wafat pada September 2024 seusai puluhan tahun berkiprah di dunia ekonomi. Ia dikenal sebagai pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, serta mengajar di Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), dan Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Ia juga pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta, menjadi pendiri Institute for Development of Economics & Finance (Indef), anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI, pakar ekonomi pada P3I DPR RI, Koordinator Bidang Ekonomi PAU-Ek-UI, serta anggota Tim “Perkembangan Perekonomian Dunia” pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN, yang menegaskan jejak panjangnya dalam mengawal arah kebijakan ekonomi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Produksi Sampah di Bantul Naik 8 Persen Selama Libur Lebaran
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
Advertisement
Advertisement





