Advertisement
Prabowo Terbitkan PP 3 Tahun 2026, Tata Niaga Perdagangan Direformasi
Presiden Prabowo
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Prabowo Subianto resmi merombak tata niaga sektor perdagangan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No. 3 Tahun 2026. Aturan anyar ini mencakup perubahan kewenangan koordinasi antar-kementerian, pengetatan skema penjualan langsung, hingga penguatan sanksi bagi pelanggar.
PP 3/2026 diteken Presiden Prabowo pada 15 Januari 2026 dan diundangkan pada hari yang sama. Salah satu perubahan mendasar adalah pemisahan kewenangan koordinasi kebijakan perdagangan.
Advertisement
Dalam Pasal 4 PP 3/2026 dijelaskan bahwa penetapan kebijakan komoditas pangan kini berada di bawah komando Menteri Koordinator Bidang Pangan, sedangkan komoditas non-pangan tetap dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Aturan sebelumnya, PP 29/2021, menempatkan seluruh koordinasi kebijakan—mulai dari neraca komoditas hingga kuota ekspor-impor—di bawah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Dengan PP 3/2026, kewenangan tersebut kini dipisah secara tegas.
BACA JUGA
Selain itu, pemerintah menghapus ketentuan ayat (4) dan (5) PP 29/2021 yang membatasi jumlah gerai milik sendiri dan mewajibkan waralaba setelah mencapai jumlah tertentu, sebagaimana diatur dalam Pasal 98 PP 3/2026.
PP 3/2026 juga mempersempit ruang gerak industri penjualan langsung. Pasal 51 melarang perusahaan Multi Level Marketing (MLM) mendistribusikan produk melalui lokapasar (marketplace) seperti Shopee, Tokopedia, dan sejenisnya.
Pasal yang sama menegaskan pelarangan skema piramida. Artinya, bisnis MLM harus berbasis penjualan produk ke konsumen akhir, bukan mengandalkan perputaran uang dari rekrutmen anggota, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 51A.
Tak hanya itu, pemerintah menyisipkan Pasal 163A yang memberikan kewenangan eksekusi lebih kuat bagi Kementerian Perdagangan. Menteri Perdagangan kini dapat merekomendasikan pemblokiran akses kepabeanan kepada Menteri Keuangan bagi importir yang dikenai sanksi administratif namun tidak melakukan perbaikan.
Guna mendukung hal tersebut, Pasal 149 mewajibkan Kementerian Keuangan menyerahkan data realisasi ekspor dan impor secara waktu nyata (real-time) kepada Kementerian Perdagangan melalui sistem terintegrasi.
“Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” tulis Pasal II PP 3/2026, dikutip Rabu (4/2/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
108 Ribu Warga Gunungkidul Ditanggung BPJS APBD, Anggaran Capai Rp42 M
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Trump Teken Tarif Baru untuk Negara Terkait Iran
- Bank BPD DIY-BPJS Ketenagakerjaan Luncurkan Kanal Iuran Terintegrasi
- Honda Perkenalkan All New Vario 125 Series di Jogja, Segini Harganya
- Pendapatan Negara di DIY 2025 Tembus Rp9,56 Triliun, Ini Datanya
- Bulog Salurkan Bantuan Beras untuk 33,2 Juta KPM Mulai Ramadan 2026
- Harga Emas Pegadaian Menguat Pagi Ini, UBS Sentuh Rp2,97 Juta per Gram
- WEF Prediksi 10 Pekerjaan Ini Paling Berisiko Lenyap Sebelum 2030
Advertisement
Advertisement



