Advertisement
Serangan Israel ke Iran Picu OPEC+ Bahas Tambahan Pasokan Minyak
Ilustrasi perdagangan minyak mentah dunia / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Serangan udara Israel ke Iran mendorong OPEC+ mempertimbangkan opsi peningkatan pasokan minyak dalam pertemuan negara anggota kunci pada Minggu, (1/3/2026). Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran pasar energi global terhadap potensi gangguan pasokan akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
Informasi tersebut disampaikan seorang delegasi OPEC+ yang dikutip Bloomberg pada Sabtu, (28/2/2026), menyusul serangan militer Israel terhadap sejumlah target di Iran. Situasi geopolitik yang memanas dinilai dapat memengaruhi stabilitas harga minyak dunia sehingga produsen energi mempertimbangkan respons kebijakan produksi.
Advertisement
OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia sebelumnya diperkirakan melanjutkan kenaikan produksi secara moderat mulai April 2026 setelah kebijakan pembekuan pasokan selama tiga bulan. Kelompok produsen minyak tersebut juga telah menambahkan kenaikan bulanan sebesar 137.000 barel per hari pada kuartal IV 2025.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya sedang melaksanakan operasi militer besar terhadap Iran pada Sabtu waktu setempat. Trump mengklaim langkah tersebut bertujuan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, tidak lama setelah Israel melancarkan serangan udara yang disebut sebagai tindakan preventif terhadap sejumlah titik di negara tersebut.
BACA JUGA
Bloomberg melaporkan harga minyak sempat naik ke level tertinggi dalam tujuh bulan hingga mencapai US$73 per barel di London pada Jumat, (27/2/2026), seiring kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang dapat mengganggu pasokan global. Kenaikan harga ini juga terjadi di tengah indikasi kelebihan pasokan minyak dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, Riyadh dan sejumlah produsen lain termasuk Iran dilaporkan mempercepat ekspor minyak. Arab Saudi sebagai pemimpin de facto Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahkan sempat meningkatkan pasokan sementara tahun lalu di tengah pemboman fasilitas nuklir Iran oleh Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Bloomberg pada Kamis, (26/2/2026), minyak mentah West Texas Intermediate diperdagangkan mendekati US$66 per barel atau tepatnya US$65,64 per barel, naik sekitar 0,3% pada pukul 07.41 waktu Singapura seusai ditutup sedikit lebih rendah pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak Brent tercatat di bawah US$71 per barel, yakni US$70,85 per barel untuk kontrak April.
Perkembangan konflik Israel dan Iran serta respons OPEC+ terhadap pasokan minyak global menjadi perhatian pelaku pasar energi karena berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, stabilitas ekonomi, dan kebijakan produksi negara-negara produsen dalam beberapa waktu ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Saldo Terancam? Ini 11 Tips Aman M-Banking dari OJK
- Grab Pastikan Bonus Hari Raya Mitra Pengemudi Cair Sebelum Lebaran
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
Advertisement
Angin Kencang, Rumah Lansia di Paliyan Gunungkidul Rata dengan Tanah
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tentrem Ing Rasa Ramadan 2026 Hadirkan Kolaborasi Chef Tiga Kota
- Ekspor Tekstil Nol Persen ke AS, PHK DIY Diprediksi Turun
- Harga Emas 28 Februari 2026 Stabil, Cek Galeri24 dan UBS
- Harga Pangan Terbaru Sabtu 28 Februari 2026
- Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp40.000, Tembus Rp3.085.000 per Gram
- Ekonom UMY Soroti ART Indonesia-AS: Peluang Ekspor, Ancam Petani Lokal
- Investor Pemula Rentan, LPS Minta Data Pribadi Tidak Dibagikan
Advertisement
Advertisement





