Advertisement
Kebijakan WFH Sehari Mulai Dimatangkan untuk Hemat BBM
Nozzle BBM - Foto dibuat oleh AI - StockCake
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Arah kebijakan kerja dari rumah mulai mengerucut dengan opsi satu hari dalam sepekan yang kini masuk tahap pematangan oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya efisiensi energi.
Pembahasan ini mencuat di momen gelar griya Idulfitri 1447 Hijriah di kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, seiring dorongan untuk menekan konsumsi energi, termasuk bahan bakar minyak.
Advertisement
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna.
“Pemerintah sedang merumuskan beberapa kebijakan agar kita semua mulai menyadari pentingnya mengefisienkan diri dalam bekerja,” ujar Prasetyo, Sabtu (21/3/2026).
BACA JUGA
Ia menegaskan, langkah ini bukan dipicu kekhawatiran terhadap pasokan energi, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan efisiensi kerja.
“Pasokan BBM tidak ada masalah, aman. Ini lebih kepada momentum untuk koreksi diri dan meningkatkan efisiensi,” katanya.
Salah satu skema yang kini mengerucut adalah penerapan work from home satu hari dalam satu minggu, meski keputusan final masih dalam tahap penggodokan.
“Masih kita godok. Dalam waktu dekat akan kita finalkan dan sampaikan ke masyarakat,” ujarnya.
Kebijakan ini diperkirakan tidak berlaku menyeluruh. Sektor pelayanan publik, industri, dan perdagangan kemungkinan tidak akan masuk dalam skema tersebut.
“Supaya tidak disalahpahami, ini tidak berlaku untuk semua. Sektor pelayanan dan industri tentu berbeda,” jelasnya.
Pemerintah juga mempertimbangkan dampak ekonomi, terutama terhadap sektor informal yang sebelumnya terdampak saat pandemi. “Kita masih dalam tahap perumusan, tentu dampaknya juga kita pikirkan,” kata Prasetyo.
Ia menambahkan, penerapan WFH kemungkinan besar akan lebih difokuskan pada instansi pemerintahan dibanding sektor swasta.
Di tengah pembahasan tersebut, Prasetyo juga mengajak masyarakat memanfaatkan momen Lebaran untuk mempererat silaturahmi. “Mari kita sejenak menikmati kebersamaan di hari raya ini. Mohon maaf lahir dan batin,” katanya.
Arah kebijakan ini menandai perubahan pola kerja yang mulai difokuskan pada efisiensi, dengan potensi dampak terhadap aktivitas harian dan mobilitas masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Pemkot Jogja Kaji WFH Bagi ASN Guna Tekan Biaya Operasional Kendaraan
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
Advertisement
Advertisement





