Advertisement
Harga BBM Naik, Indonesia Masih Lebih Murah di ASEAN
Foto ilustrasi krisis BBM. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kondisi ekonomi global yang kian tidak menentu mulai berdampak langsung pada pengeluaran harian masyarakat Indonesia. Sejak penyesuaian harga pada 18 April lalu hingga kini Selasa (28/4/2026), konsumen mulai merasakan kenaikan pada sejumlah jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di tengah gejolak pasar energi dunia.
Lonjakan harga ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Gangguan di Selat Hormuz—jalur vital yang menyuplai sekitar 20% kebutuhan minyak mentah dunia—telah mendorong harga minyak Brent melambung hingga menembus angka US$109 per barel.
Advertisement
Kondisi tersebut memaksa sedikitnya 85 negara di dunia untuk mengerek harga BBM domestik mereka. Vietnam tercatat menaikkan harga hingga 50%, sementara Kamboja melonjak drastis sampai 68%. Namun, di tengah tekanan hebat ini, Indonesia dinilai masih memiliki kebijakan harga yang lebih "bersahabat" dibandingkan negara-negara tetangga.
Berdasarkan data per 27 April 2026, penyesuaian harga mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No. 245 Tahun 2022. Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamax Turbo kini berada di angka Rp19.400 per liter, disusul Dexlite sebesar Rp23.600, dan Pertamina Dex yang mencapai Rp23.900 per liter.
BACA JUGA
Kabar baik bagi pengguna kendaraan pribadi, harga Pertamax dan Pertamax Green tetap stabil di angka Rp12.300 dan Rp12.900 per liter. Pemerintah juga memastikan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tetap terlindungi dengan harga masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter guna menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Perbandingan Harga dengan Negara Tetangga
Meskipun harga jenis nonsubsidi mengalami kenaikan, posisi Indonesia masih jauh di bawah harga rata-rata bensin di kawasan Asia Tenggara. Merujuk pada data Global Petrol Prices, harga rata-rata bensin di Indonesia berkisar di angka US$0,724 per liter.
Angka ini jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan Vietnam (US$0,919), Filipina (US$1,610), apalagi Singapura yang telah menembus US$2,434 per liter. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan subsidi energi di Indonesia masih berfungsi efektif sebagai jaring pengaman ekonomi nasional.
Menteri Keuangan telah menegaskan komitmen pemerintah bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Langkah berani ini diambil untuk meredam dampak inflasi energi akibat situasi geopolitik yang memanas.
Bagi masyarakat yang terdampak kenaikan BBM nonsubsidi, adaptasi kini menjadi strategi utama untuk bertahan. Penggunaan transportasi umum, penyesuaian pola berkendara, hingga beralih ke kendaraan listrik menjadi pilihan logis seusai penyesuaian harga ini diberlakukan secara nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Residivis Curi Bilah Gamelan di UGM dan ISI, Dijual ke Rongsok
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








