SBBI-JBBI 2018: Hemat BBM Jadi Atribut Penting Beli Mobil

SBBI-JBBI 2018: Hemat BBM Jadi Atribut Penting Beli Mobil Dokumentasi SBBI/JBBI
24 April 2018 07:05 WIB Hijriyah Al Wakhidah Ekbis Share :

Harianjogja.com, SOLO—Hemat bahan bakar minyak (BBM) menjadi pertimbangan penting bagi konsumen Soloraya saat hendak membeli produk otomotif.

Berdasarkan hasil survei Solo Best Brand Index-Jogja Best Brand Index (SBBI-JBBI) 2018, atribut hemat BBM selalu muncul sebagai pertimbangan utama konsumen di setiap kelas mobil, baik multipurpose vehicle (MPV), mobil niaga, hatchback, terlebih untuk low cost green car (LCGC). Harga justru menjadi komparasi terakhir bagi konsumen untuk membeli mobil setelah kapasitas dan fitur.

Di kelas hatchback misalnya, General Manager Honda Solobaru, Arif Andi Wihatmanto, mengatakan konsumen paling dominan mempertimbangkan brand dan spesifikasi produk sebelum memutuskan brand mana yang akan dibeli. Spesifikasi itu salah satunya terkait hemat BBM. “Di kelas ini, selain spesifikasi yang tinggi, mobil juga harus nyaman dengan desain yang lalu fresh,” kata Andi kepada Espos, Senin (23/4).

Menurut dia, faktor harga kurang begitu jadi bahan pertimbangan. Sebagai gambaran, dia menyebut, brand Honda jadi pilihan konsumen meski banyak pesaing dengan harga yang lebih terjangkau. “Namun di kelas hatchback kami bisa menguasai sedikitnya 50% pasar. Untuk mempertahankan brand ini, kami sangat mengandalkan pelanggan loyal dan model yang selalu baru,” imbuh dia.

Di kelas LCGC, selain hemat BBM, faktor harga juga menjadi pertimbangan konsumen mengingat pasar LCGC didominasi pembeli pertama. “Kebanyakan pasar LCGC adalah orang yang baru pertama beli mobil sehingga pertimbangan finansial cukup penting. Ada selisih Rp1 juta hingga Rp2 juta dengan merek lain, biasanya dampaknya akan sangat terasa, apalagi di segmen ini persaingannya cukup ketat,” tutur Andi.

Dalam survei merek terbaik SBBI, beberapa brand yang bersaing ketat di segmen LCGC antara lain Honda Brio Satya, Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Datsun Go Panca, dan Karimun Wagon R. Konsumsi BBM juga menjadi pertimbangan utama saat konsumen membeli mobil niaga.

“Namun sebelum mempertimbangkan masalah konsumsi BBM, pelanggan akan lihat dulu kapasitas muatannya karena seperti diketahui, mobil ini dimanfaatkan untuk angkutan barang atau logistik yang sangat memperhatikan kapasitas angkut,” jelas Branch Manager Astra Daihatsu Solobaru, Vincentius Allen Budiono.

Satu faktor lagi yang kerap jadi pertimbangan konsumen memilih mobil niaga adalah keawetan dan kekuatan mobil. Di sektor ini, Daihatsu mengandalkan produk Grand Max yang disebut menguasai 60%-70% pasar mobil niaga Soloraya.

Untuk mempertahankan pasar di segmen ini, Daihatsu melakukan beberapa strategi di antaranya kunjungan ke pelanggan Daihatsu yang kebanyakan adalah pebisnis dan perusahaan. “Kalau orang bisnis ada yang pengambilannya satu unit tapi ada yang beberapa unit, biasanya dalam waktu dua tahun mereka akan melakukan peremajaan sehingga kami sering kunjungan ke pelanggan untuk menjaga relasi dan mereka tidak beralih ke merek lain,” papar Allen.

Ketua Divisi Survei SBBI-JBBI 2018, Sholahudin, mengatakan di sektor otomotif SBBI mempertemukan pemilik brand otomotif dengan beberapa kategori antara lain, MPV, Niaga, hatchback, crossover, LCGC, mobil van, truk. Selain itu, survei ini memotret kekuatan merek berdasarkan nama diler dan produk pendukung di sektor otomotif, seperti oli mobil, asuransi mobil, dan leasing.

Penghargaan SBBI-JBBI 2018 akan diumumkan di The Alana Convention and Hotels Solo, 3 Mei mendatang. Acara penganugerahan semakin lengkap dengan kehadiran motivator yang juga pakar brand, Andrie Wongso, yang bakal berbagi tips menjaga brand di era ekonomi digital.

Sumber : Solopos