Suku Bunga Naik, Bagaimana dengan Investasi?

Suku Bunga Naik, Bagaimana dengan Investasi?Ilustrasi pengunjung melintas didepan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
15 Mei 2018 22:30 WIB Ipak Ayu H Nurcaya Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Rencana menaikkan suku bunga dipastikan tidak akan berpengaruh pada iklim investasi yang ada di Indonesia. 

Ekonom Senior Aviliani menilai kenaikan suku bunga di Indonesia sudah seharusnya terjadi bahkan dinilai terlambat. Menurutnya, jika pun terjadi tidak akan menjadi masalah bagi kegiatan ekonomi utamanya investasi. 

"Kemarin itu lucu dengan bunga yang rendah pertumbuhan ekonomi juga tidak tinggi. Lalu, jika menaikkan suku bunga 50 bps pun menurut saya tidak tidak akan menjadi masalah, karena poin utama dari kegiatan ekonomi saat ini bukan suku bunga melainkan iklim investasi,” katanya, Selasa (15/5/2018). 

Dirinya mengemukakan pemerintah sudah bekerja keras membuat kebijakan fiskal untuk mendorong investasi yang baik baik. Contohnya, aturan baru tax holiday yang sudah diterbitkan pemerintah beberapa waktu lalu. 

Sayangnya, pemberian insentif tersebut dinilai tidak fokus dan belum memberikan dampak yang signifikan. Ke depan dalam mendesain insentif untuk kemudahan berusaha harus lebih fokus sesuai dengan kebutuhan pengusaha dan yang diharapkan pemerintah. 

Hal ini, juga dapat mengurangi arus datangnya investasi padat karya dan menumbuhkan lebih banyak investasi padat modal. 

Sementara itu dari sisi yang lain seperti konsumsi, Aviliani mengatakan, suku bunga juga bukan menjadi acuan tinggi rendahnya kegiatan berjalan. 

Bahkan, dari hasil sebuah forum seminar mengemukakan masalah utama kaum menengah atas dalam membelanjakan dananya adalah persoalan perpajakan. Hal ini linier dengan fenomena tahun lalu yang suku bunga rendah tetapi tingkat kredit tidak bertumbuh malah dana simpanan masyarakat yang naik. 

"Ini indikasi masyarakat tidak belanja, pemerintah harus menaruh perhatian pada hal ini," katanya. 

Adapun untuk masyarakat kelas menengah bawah konsumsi masih sangat bergantung dari subsidi dan bantuan sosial yang diberikan pemerintah. 

Secara umum, Aviliani menilai dengan melihat hasil pertumbuhan ekonomi kuartal I/2018 yang hanya 5,06% akan sulit mencapai target sebesar 5,4% akhir tahun ini. Dirinya memproyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 hanya akan berkisar pada 5,2%.

 

Sumber : Bisnis Indonesia