Rupiah Lemah, Pengusaha Terpaksa Kurangi Volume Tempe

Rupiah Lemah, Pengusaha Terpaksa Kurangi Volume TempeTempe kedelai. - Solopos/Ivanovich Aldino
07 Agustus 2018 09:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Harga kedelai yang terus terkerek melampaui harga Rp7.000 per kilogram membuat para pengusaha tempe di Jogja kelimpungan. Pasalnya lebih dari 80% bahan baku kedelai yang digunakan untuk memproduksi tempe merupakan komoditas impor. Mau tak mau, para produsen mengambil siasat untuk mengurangi volume tempe. Sebab menaikkan harga, nyaris tak mungkin dilakukan.

Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar ditengarai menjadi salah satu penyebab makin mahalnya kedelai. Pasalnya tahun lalu, saat nilai rupiah terhadap dolar masih di kisaran Rp12.000, harga kedelai masih ada di level Rp6.700 per kilogram. Salah satu produsen tempe, Bu Suparto menyebut kini harga bahan baku kedelai mencapai Rp7.500 hingga Rp7.800 per kilogram. Meski harganya terus naik turun, namun menurutnya tak pernah bisa turun di bawah Rp7000. Dibandingkan harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp6500, harga kedelai saat ini tentu memberatkan bagi pengusaha kecil sepertinya. "Naik turun terus tapi ya tetep mahal. Mahal banget," katanya kepada Harian Jogja, Senin (6/8).

Meski Suparto mengaku produksinya tak terlalu besar, hanya membutuhkan bahan baku sekitar 50 kilogram sehari, kenaikan harga kedelai tersebut sangat ia rasakan. Pabrik tempe yang berada Pandeyan Umbulharjo itu tetap mempertahankan besaran produksi harian, tetapi dari segi volume, ada pengurangan. Ukuran tempe diproduksi lebih kecil dibandingkan semula. Hal itu menurutnya dilakukan karena produsen tak dapat serta merta menaikkan harga produk. Pasalnya pedagang yang biasanya mengambil ke tempatnya bisa protes karena akan susah menaikkan harga di tingkat konsumen.

"Tempat saya kan biasanya buat kulakan pedagang Pasar Giwangan dan Beringharjo, pada enggak mau kalau harganya naik. Bisanya ya cuma ngurangi ukuran," imbuhnya.

Kendala serupa dialami oleh Rubiyono, produsen tempe yang biasanya menyetok kebutuhan Pasar Induk Wonosari. Ia mengaku harga bahan baku kedelai yang terus naik turun membuat produsen kebingungan. Hari ini, Senin (6/8), harganya telah mencapai Rp7.600 padahal menurutnya akhir pekan lalu harganya masih Rp7.400 per kilogram. "Turun sebentar naik lagi, tidak bisa diprediksi," tuturnya.

Menghadapi kondisi tersebut, menaikkan harga menurutnya bukan keputusan yang bijak. Pasalnya persaingan antar produsen tempe kini makin ketat. Jika salah satu menaikkan harga, bisa dipastikan produsen lain akan mengambil keuntungan dengan membanting harga. Meskipun tak banyak, namun Rubiyono mengaku hal itu akan berpengaruh pada pilihan konsumen. Konsumen tetapnya bisa berpaling dan memilih untuk membeli produk tempe lainnya yang lebih murah.

Mau tak mau, Rubiyono menyebut strategi yang bisa dilakukan produsen hanyalah mengurangi bobot produk tempenya. Ia mencontohkan dengan kemasan plastik yang ia produksi, jika biasanya tempe dibuat sepanjang 30 sentimeter kini dikurangi menjadi 25 sentimeter saja. Hal itu tentu juga akan berpengaruh pada bobot produknya.

"Ya produsen kan lihat-lihat. Kalau mau menaikkan harga, jangan-jangan sebentar lagi harga kedelai turun. Kalau sudah keburu naik, pelanggan sudah pergi, kan kita rugi," ucapnya. Tak hanya berpengaruh pada pengurangan bobot produk, volume produksinya pun menjadi berkurang. Meski tidak signifikan, Rubiyono menyebut produksinya kini tak pernah mencapai bahan baku satu kuintal dalam sehari.

Ad Tokopedia