BWM Usaha Mandiri Sakinah untuk Pemberdayaan Perempuan

BWM Usaha Mandiri Sakinah untuk Pemberdayaan PerempuanDeputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan Anto Prabowo (ketiga kanan), dan Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah Deden Firman Hendarsyah (kedua kanan), mengamati kegiatan Bank Wakaf Mikro (BWM) di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Bantul, DIY, Sabtu (5/5/2018). - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
04 Agustus 2018 07:29 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Guna memperluas penyediaan akses keuangan bagi masyarakat kecil, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresmikan Bank Wakaf Mikro (BWM) Usaha Mandiri Sakinah, Jumat (3/8). Lembaga keuangan yang berlokasi di Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogja ini juga menjadi upaya OJK untuk mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan.

“Pendirian Bank Wakaf Mikro Usaha Mandiri Sakinah ini sesuai dengan nota kesepahaman OJK dengan Pengurus Pusat Aisyiyah, untuk mengembangkan keuangan syariah dalam pemberdayaan ekonomi perempuan,” Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat meresmikan Bank Wakaf Mikro Usaha Mandiri Sakinah.

Wimboh menjelaskan melalui skema pembiayaan BWM, usaha-usaha mikro kecil yang ada di sekitar wilayah Universitas Aisyiyah dapat lebih berkembang. Selain itu, keberadaan BWM ini diharapkan dapat memberikan tambahan penghasilan, sehingga ekonomi masyarakat menjadi lebih baik.

Bank Wakaf Mikro Usaha Mandiri Sakinah telah mendapatkan izin usaha dari Kantor OJK DIY pada 16 Mei 2018 dan merupakan BWM pertama yang didirikan di luar pesantren, yakni berdiri di lingkungan pendidikan di Universitas Aisyiyah.

Wimboh menambahkan Bank Wakaf Mikro Usaha Mandiri Sakinah merupakan BWM kedua yang telah diresmikan di wilayah DIY, setelah sebelumnya OJK meresmikan pendirian Bank Wakaf Mikro Almuna Berkah Mandiri di Krapyak. Bank wakaf ini memiliki 300 orang calon nasabah dan 25 orang nasabah yang telah lulus Pelatihan Wajib Kelompok (PWK).

“Para calon nasabah dan nasabah ini akan mendapatkan fasilitas pembiayaan pertama sebesar Rp1 juta yang selanjutnya akan terus meningkat seiring dengan perkembangan usaha nasabah,” imbuh Wimboh.

Nasabah BWM Usaha Mandiri sebagian besar merupakan pedagang. Antara lain pedagang kelontong, pedagang sembako di Pasar Pundung dan makanan di pasar kaget Sunmor UGM, pedagang aneka ragam makanan dan kue kering hingga empon-empon, serta penyuplai batik di Malioboro.

Adapun skema pembiayaan melalui Bank Wakaf Mikro adalah pembiayaan tanpa agunan dengan nilai maksimal Rp3 juta dan margin bagi hasil yang dikenakan setara 3% per tahun. Dalam skema pembiayaan BWM juga disediakan pendampingan bagi kelompok.

“Secara nasional, sampai 30 Juni 2018 telah berdiri 26 Bank Wakaf Mikro di seluruh Indonesia dengan total pembiayaan sebesar Rp6,052 miliar kepada 5.735 nasabah,” papar Wimboh.