Jejak Diplomasi Budaya Hiphop Amerika Serikat Menggema di PBSK
Sejak kelahirannya, hiphop bukan sekadar bicara soal kesenian. Ia menjadi produk budaya yang lahir dari pengalaman masyarakat terpinggirkan di New York.
Chief Technology Officer (CTO) Coding Collective, Abdul Latif Ikhlashul Mukmin./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA — Usia muda kini bukan lagi menjadi penghalang untuk membangun dan mengembangkan sebuah bisnis. Bahkan, anak muda Indonesia sudah seharusnya mulai mengembangkan inovasi baru untuk memajukan bangsa Indonesia, salah satunya di bidang teknologi informasi dan software developer.
Salah seorang pemuda Jogja ini adalah salah satu yang berhasil mengembangkan perusahaan hingga menembus pasar ASEAN lewat berdirinya perusahaan Coding Collective.
Abdul Latif Ikhlashul Mukmin, seorang Chief Technology Officer (CTO) Coding Collective yang berhasil menginspirasi anak muda Indonesia khususnya dari DIY karena kemampuannya dalam mengembangkan perusahaan ini. di perusahaan itu, Abdul juga merupakan Co-Founder.
Berdirinya Coding Collective awalnya dikembangkan oleh dua orang, termasuk Abdul. Dengan segala kegigihannya, saat Coding Collective bisa dibawanya sampai ke pasar ASEAN dan telah memiliki lebih dari 50 karyawan berkat segala kemampuan dan pengalaman profesionalnya.
“Coding Collective itu berdiri karena berawal dari saya jabatan sebagai Product Manager. Pada saat itu terdapat belasan teknisi online yang membangun dua proyek yaitu online ticketing dan video broadcasting. Di situ saya mendapat kendala dari SDM-nya. Kemudian, project ini kebanyakan menggunakan developer dari Myanmar, dimana menurut saya untuk kebutuhan project seperti ini SDM dari Indonesia saja sebenarnya sudah mampu,” kata Abdul melalui rilis, Kamis (13/10/22).
BACA JUGA: Ada Promo Menarik untuk Liburan Akhir Tahun Ini di Grand Rohan, Cek di Sini
Masalah yang dihadapi Abdul saat itu justru menjadi akar solusi untuk mulai membuka peluang bagi developer Indonesia untuk menunjukkan kemampuan dan bakatnya. Jika dilihat dari karya, sebenarnya tidak sedikit orang yang minim fasilitas sehingga karyanya menjadi dipandang sebelah mata.
itulah sebabnya, berdirinya Coding Collective juga bisa menjadikan developer Indonesia untuk mulai mengembangkan karirnya hingga ke kancah internasional.
Abdul mengungkapkan bahwa Coding Collective memiliki dua fokus utama berdasarkan lingkup bidangnya, yaitu Software House dan IT Outsourcing.
Coding Collective, kata dia, memiliki skala project yang sudah mencapai lingkup internasional dengan menerapkan standardisasi internasional dalam pengerjaannya. Negara-negara yang sudah termasuk di dalamnya yaitu Singapura, Dubai, Korea, Filipina, Amerika Serikat, Myanmar, dan Taiwan.
Selain itu, Coding Collective juga membantu membangun talenta yang kompeten di setiap fokus bidangnya. Dengan mendirikan homebase perusahaan di Indonesia, itu tidak menjadi penghalang untuk tetap memiliki fokus project berbasis internasional. "Ini juga menjadi cara untuk menjadikan talent TI Indonesia bisa sukses hingga pasar internasional," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebakaran Rama Billiard & Cafe Jogja diduga dipicu gangguan listrik. Kerugian ditaksir lebih dari Rp20 miliar tanpa korban jiwa.
Bandara Adisutjipto resmi melayani rute langsung Yogyakarta–Banjarmasin setiap hari bersama Citilink mulai 1 Juli 2026.
Kemenkes menegaskan tenaga medis dan nakes berhak menghentikan pelayanan jika mengalami intimidasi, sesuai UU Kesehatan.
Pemda DIY belum mengangkat Guru Pendamping Khusus menjadi PPPK karena masih menghitung kemampuan anggaran dan kesiapan pelaksanaannya.
Stok beras Bulog mencapai rekor 5,18 juta ton per 2 Juli 2026. Serapan beras sudah 81,65 persen dari target pengadaan nasional.