Pemda DIY Siapkan Penataan Eks ABA dan Kawasan Panggung Krapyak
Pemda DIY matangkan penataan eks Parkir ABA dan Panggung Krapyak dengan konsep ruang hijau minim bangunan, RTH ditargetkan mulai 2026.
Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY menyebut kondisi ekonomi DIY 2024 lebih menantang dibandingkan dengan tahun lalu.
Ketua Komtap Pembinaan dan Pengembangan Sekretariat Kadin DIY, Timotius Apriyanto mengatakan akan terjadi kontraksi supply dan demand dampak kondisi global yang memengaruhi kondisi nasional dan lokal DIY.
Dia menjelaskan kontraksi global ini dampak dari faktor geopolitik dunia, seperti krisis Rusia-Ukraina yang belum rampung serta serangan Israel ke Palestina. Kondisi ini akan membawa krisis energi dan krisis pangan global yang semakin parah. Pertumbuhan ekonomi di DIY menurutnya akan lebih lambat dari proyeksi nasional.
“DIY akan mengalami perlambatan ekonomi juga dibandingkan tahun lalu, yang menjadi catatan sekarang selain tekanan supply demand, kami sebut market confidence drop karena tekanan geopolitik global," ucapnya, Kamis (25/01/2024).
Sementara di tingkat nasional saat ini sedang memasuki tahun politik sehingga industri berada di situasi ketidakpastian menunggu hasil pemilu.
“Ketidak pastian ini membuat market confidence drop. Industri besar menahan investasi dan lainnya,” jelasnya.
Ekonomi di 2024 akan diwarnai dengan penurunan daya beli masyarakat sehingga akan berpengaruh signifikan pada proyeksi ekonomi di DIY.
Menurutnya kondisi ini diperparah dengan kebijakan fiskal yang memberatkan bagi pengusaha, khususnya industri pariwisata, yakni kenaikan tarif pajak hiburan 40%-75% sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD). Padahal, kata Timotius, multiplier effect industri wisata sangat besar.
“Kami juga dibebani PPN 11% dan masih juga kena juga PPh Badan 22% sementara PPh dari karyawan juga harus kami tanggung, ini otomatis sangat berat,” ujar dia.
BACA JUGA: Pernyataan Presiden Soal Kampanye Disalahartikan, Ini yang Benar Menurut Undang-Undang
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pertumbuhan ekonomi Triwulan III/ 2023 sebesar 4,96% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dari capaian nasional sebesar 4,94% secara tahunan.
Pertumbuhan ekonomi Triwulan III/2023 lebih lambat dibandingkan Triwulan II/2023 sebesar 5,16%, juga lebih lambat dari Triwulan III/2022 sebesar 6,20%. Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, mengatakan pertumbuhan ekonomi DIY pada Triwulan III 2023 tumbuh sebesar 0,23% secara quarter-to-quarter/qtq.
"Apabila dibandingkan dengan kondisi Triwulan III/2022 pertumbuhan ekonomi DIY meningkat 4,96%. Ini tentunya sedikit lebih tinggi dibandingkan nasional 4,94%," paparnya.
Sementara pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2023 baru akan dirilis awal Februari 2024.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY matangkan penataan eks Parkir ABA dan Panggung Krapyak dengan konsep ruang hijau minim bangunan, RTH ditargetkan mulai 2026.
Penjualan sapi kurban asal Gunungkidul tembus 4.700 ekor jelang Iduladha 2026. Permintaan naik dibanding tahun lalu.
Sebanyak 28 orang tewas dan dua lainnya hilang akibat longsor tambang emas ilegal di Angola barat laut, termasuk 13 korban dari satu keluarga.
Bareskrim memastikan blackout di Sumatra bukan sabotase, melainkan dampak cuaca ekstrem yang merusak jaringan transmisi listrik di Jambi.
JAECOO telah mengirimkan 16.000 unit J5 EV ke konsumen Indonesia. SUV listrik ini dibanderol mulai Rp279,9 juta.
Daftar mobil listrik murah 2026 di Jogja mulai Rp100 jutaan, cocok untuk mobilitas harian dan hemat biaya BBM