Ekonomi Sirkular Bisa Berdampak Signifikan pada Penerimaan Negara

Newswire
Newswire Rabu, 13 Maret 2024 22:27 WIB
Ekonomi Sirkular Bisa Berdampak Signifikan pada Penerimaan Negara

Foto ilustrasi pemilahan sampah botol plastik bagian dari aktivitas ekonomi sirkular - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTAEkonomi sirkular pada industri akan berdampak signifikan terhadap penerimaan negara sehingga kalangan industri termasuk industri baja diharapkan menerapkannya. Hal ini diutarakan oleh Pakar ekonomi lingkungan IPB University Eka Intan Kumala Putri.

"Ekonomi sirkular masih bersifat imbauan, belum mandatori atau kewajiban, kalau yang voluntary-voluntary tersebut diakumulasi, termasuk dari industri baja akan cukup signifikan bagi penerimaan negara," katanya di Jakarta, Rabu (13/3/2024).

Selain itu, tambahnya, penerapan ekonomi sirkular juga berdampak positif terhadap komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga mendukung program net zero emission.

Terkait dengan hal itu Eka menilai positif, beberapa industri baja padat kapital yang sudah menerapkan ekonomi sirkular, salah satunya PT Gunung Raja Paksi dengan menghasilkan green aggregate dari slag grinding.

Green aggregate tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang seperti konstruksi jalan, industri batako dan paving block, beton ready mix, dan lain sebagainya.

Menurut dia, industri baja tersebut bisa dikategorikan menerapkan ekonomi sirkular sebab telah mendaur ulang limbahnya lebih dari satu tahap.

"Memang tidak mungkin sampai zero waste. Tetapi prinsipnya, ekonomi sirkular akan meminimalisir waste yang terbuang," ujarnya.

Eka menambahkan selain berdampak positif terhadap penerimaan negara, ekonomi sirkular juga menguntungkan bagi perusahaan dan lingkungan.

BACA JUGA: Tak Mau Jatuh Korban Lagi, Bupati Bantul Siapkan Surat Edaran Soal Mercon

Dari sisi perusahaan, tentu akan mendapatkan intangible value dengan pengurangan emisi, produk perusahaan akan mempunyai brand di masyarakat sebagai produk berkelanjutan, perusahaan juga mendapatkan penghasilan dari produk yang terproses.

"Perusahaan juga akan mendapatkan value. Misal ikut proper atau certification, maka dari sisi bisnisnya akan terjamin," katanya.

Sementara itu dari sisi lingkungan, ekonomi sirkular akan mengurangi limbah, pencemaran, dan juga emisi yang terbuang.

Dikatakannya, penerapan ekonomi sirkular memang tidak mudah apalagi teknologi untuk daur ulang saat ini masih mahal, tetapi seiring berjalannya waktu, ketika teknologi sudah banyak dilakukan, biaya teknologi akan menurun.

"Harus ada inisiasi dari perusahaan yang padat kapital, misal industri baja dengan modal besar, untuk mencoba teknologi itu. Sehingga perusahaan lain juga mereplikasi," kata dia.

Sebelumnya Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amalia Adiningrat Widyasanti mengatakan ekonomi sirkular merupakan pilar utama menuju Indonesia Emas 2045.

"Penerapan ekonomi sirkular secara masif dapat membuka peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi masa depan," katanya.

Menurut dia, penerapan ekonomi sirkular dapat memberikan manfaat besar bagi Indonesia, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Ekonomi sirkular dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online