Keraton Yogyakarta Buka Suara soal Dugaan Pungli Food Truck di Alkid Jogja
Keraton Yogyakarta menegaskan food truck di Alkid telah mengantongi izin. Dugaan pungutan parkir disebut bukan pungutan resmi Keraton.
--
Harianjogja.com, JOGJA— Dampak tekanan ekonomi global semakin dirasakan oleh pelaku usaha dalam negeri, mulai dari lonjakan harga bahan baku hingga pelemahan rupiah. Kondisi ini dikhawatirkan akan menekan daya saing industri hingga ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY, Timotius Apriyanto, berharap di tengah kondisi seperti ini subsidi pada Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa dipertahankan. Ia menjelaskan yang perlu dilakukan pemerintah adalah melakukan realokasi anggaran, lalu memberikan insentif ekonomi.
"Baik itu berupa diskon pajak mungkin, ataupun juga mungkin bantuan subsidi upah, subsidi BBM, listrik," ujarnya.
Menurutnya untuk memberikan insentif diperlukan sumber anggaran, misalnya dari anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp335 triliun untuk tahun 2026. Timotius menyebut ketidakstabilan kondisi ekonomi bisa mengarah pada social turmoil atau gejolak sosial.
"Nah makanya ini sangat serius sekali harus dihitung ulang kemampuan fiskal negara kita bagaimana," ujarnya.
Selain itu, ia menyebut konflik global juga berdampak pada lonjakan harga minyak mentah yang sempat mencapai di atas 100 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 70 dolar AS per barel. "Ini mestinya harus gerak aksi penyelamatan ekonomi nasional."
Lebih lanjut dia mengatakan, kenaikan harga minyak global berdampak pada lonjakan harga plastik sampai 100% di tingkat retail, sehingga akan meningkatkan ongkos produksi.
Dampak lebih jauh lagi akibat tekanan ekonomi global menurutnya bisa ke sektor ketenagakerjaan yakni ancaman PHK, baik perusahaan yang berorientasi pasar domestik maupun global. Tidak hanya industri manufaktur, kata Timotius, sektor UMKM juga akan terpukul.
"Sehingga solusinya adalah bagaimanapun juga negara harus segera melakukan perubahan yang revolusioner untuk apa memberikan proteksi dan juga subsidi," lanjutnya.
Sebelumnya, Pakar Ekonomi Energi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dessy Rachmawatie, mengatakan kenaikan harga plastik dipicu dinamika global, kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok.
Menurutnya, kenaikan harga plastik saat ini merupakan bagian dari fenomena cost-push inflation. Dia menjelaskan ini merupakan fenomena tekanan inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya pada sektor berbasis energi.
Dessy mengatakan, plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat bergantung pada sektor energi. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya produksinya ikut naik.
"Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga secara lebih luas. Tidak hanya pada industri manufaktur, tetapi juga sektor lain yang memiliki keterkaitan," ujarnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Keraton Yogyakarta menegaskan food truck di Alkid telah mengantongi izin. Dugaan pungutan parkir disebut bukan pungutan resmi Keraton.
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
KNMP Poncosari Bantul didorong menjadi pusat kegiatan nelayan dan pengembangan hasil perikanan dengan fasilitas cold storage dan pabrik es.
BCA memeriksa mata lebih dari 3.500 pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu melalui program Mata Cemerlang, Prestasi Gemilang.
Dishub Sleman menata parkir Lapangan Beran Tridadi dengan tarif Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 bagi mobil saat non-event.
Daftar pemenang MTV VMAs 2026 lengkap. Madonna meraih tujuh piala, sedangkan Taylor Swift mencetak rekor baru dalam sejarah VMA.