100 Difabel Belajar Membatik, Jogja Bidik Sentra Batik Indonesia
100 difabel dari lima kabupaten/kota di DIY belajar membatik dengan pendampingan sebulan untuk membuka peluang berkarya dan mandiri.
Inflasi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menyebut Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) punya peran signifikan dalam menjaga inflasi tetap terkendali. Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati mengatakan upaya pengendalian inflasi dilakukan oleh berbagai lini.
Dia mencontohkan saat pasokan telur di DIY kurang maka dilakukan upaya kerjasama antar daerah dengan Jawa Timur. Mendatangkan telur untuk memenuhi kebutuhan di DIY karena produksinya tidak cukup.
BACA JUGA : Jogja Alami Kenaikan Inflasi Tahunan, Ini Komoditas Pemicunya
Menurutnya TPID DIY juga melakukan inovasi-inovasi seperti Kios Segoro Amarto sebagai price reference store untuk menjaga daya beli, Warung MRANTASI (Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi), operasi pasar atau pasar murah, dan lainnya.
"TPID ini memang punya peran yang signifikan terhadap pengendalian inflasi, karena memang berbagai lini," ucapnya, Senin (21/10/2024).
Dia menjelaskan setiap bulannya TPID DIY selalu membaca data statistik yang dirilis oleh BPS DIY, melihat komoditas yang tren harganya mulai naik. TPID DIY menurutnya sudah punya rencana kerja di momen-momen besar seperti Idul Fitri dan Nataru.
Herum mengatakan ada momen tahunan yang membentuk pola, di mana barang-barang akan mengalami kenaikan harga. Menjelang Idul Fitri harga sembako mulai melonjak. Ini dijadikan acuan oleh TPID DIY dalam membuat kebijakan dan program.
"Ada juga momen saat tahun ajaran baru, nanti pengeluaran dari pendidikan akan tinggi," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, meski sudah ada pola, namun terkadang ada pola-pola yang berubah misalnya di tahun lalu bulan Maret sudah terjadi panen raya. Dampaknya harga beras menjadi turun.
Namun di tahun ini karena ada pergeseran musim tanam pada bulan Maret penurunan harga beras belum signifikan. Kemungkinan baru sedikit yang panen sehingga baru turun bulan April. "Jadi pola-polanya pun kadang-kadang gak sama persis," lanjutnya.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Ibrahim mengatakan ada beberapa tantangan yang dihadapi TPID DIY. Seperti dinamika kondisi pasokan dan permintaan akibat pengaruh musiman maupun struktural, nilai tambah komoditas yang terbatas seiring belum optimalnya hilirisasi, dan peranan offtaker lokal yang belum optimal.
BACA JUGA : BI Jogja Klaim Inflasi di Jogja Masih Akan Terjaga Sesuai Target
Ia menjelaskan pada September 2024 DIY kembali mencatatkan deflasi sebesar 0,10% secara bulanan atau (month-to-month/mtm), dan secara tahunan inflasi DIY mencapai 1,85% (year-on-year/yoy). Menurutnya deflasi yang terjadi di DIY dipicu oleh harga komoditas yang mulai menunjukkan normalisasi.
Ibrahim menyebut secara umum terdapat beberapa hal yang berpotensi mempengaruhi kondisi inflasi DIY ke depan. Antara lain pengembangan inovasi teknologi pertanian yang masih terbatas, kondisi iklim La Nina di akhir tahun yang berpotensi memberikan dampak terhadap produksi pangan, aliran pasokan komoditas pangan ke luar DIY yang relatif besar.
Menurutnya hilirisasi pangan perlu didorong untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja. Sementara itu, kata Ibrahim, kondisi permintaan dan daya beli di DIY masih relatif terjaga.
"Tercermin dari indeks penjualan makanan dan minuman yang meningkat, didukung kepercayaan konsumen yang masih optimis," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
100 difabel dari lima kabupaten/kota di DIY belajar membatik dengan pendampingan sebulan untuk membuka peluang berkarya dan mandiri.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Aviary dome Gunungkidul di Giritirto baru 17%. Proyek ditargetkan rampung Desember 2026 dan seluruh kawasan diproyeksikan selesai 2029.
BMKG memprakirakan cuaca berawan hingga hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia serta mengingatkan potensi awan cumulonimbus.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Senin 21 September 2026 tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.