Asap Bus Trans Jogja Diprotes Warga, Dishub DIY Akui Armada Sudah Uzur
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
Ilustrasi kamar hotel Greenhost./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY menyebut length of stay atau lama tinggal masih menjadi pekerjaan rumah dalam menyambut libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025.
Ketua GIPI DIY, Bobby Ardianto mengatakan dalam menyambut libur Nataru 2024/2025 dibutuhkan konsistensi semua pihak untuk memaksimalkan kunjungan wisata.
Pertama dari sisi akses seperti penerbangan dan kereta api. Juga lalu lintas dalam perjalanan menuju DIY. Ini perlu dikoordinasikan bersama untuk memberikan pelayanan yang maksimal.
BACA JUGA: Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Bantul Diprediksi Menurun pada Libur Akhir Tahun Ini
Kemudian dari sisi pelayanan industri pariwisata seperti hotel, restoran, destinasi, hingga UMKM harus menjadi tuan rumah yang bertanggung jawab. Memberikan pelayanan yang terbaik bagi wisatawan.
"Bagaimana kita tahan mereka untuk tinggal di Jogja dengan kegiatan pariwisata ini pekerjaan rumah bersama," ucapnya, Senin (9/12/2024).
Dia mengatakan butuh orkestrasi bersama antara Pemerintah Daerah (Pemda) dan stakeholder pariwisata. Bobby mengaku optimis kunjungan wisatawan saat Nataru 2024/2025 masih sesuai harapan meski dalam kondisi cuaca ekstrem.
Menurutnya dari sisi arus masuk wisatawan ke DIY bisa signifikan dengan dimudahkannya akses melalui jalan tol. Kesempatan ini harus digarap semaksimal mungkin agar okupansi bisa sesuai harapan.
"Kalau prediksi kami Nataru masih cukup positif, mudah-mudahan gak banyak pergeseran dari teman-teman industri," tuturnya.
BACA JUGA: Kerja Sama Tawada Healthcare-RSA UGM, Kembangkan Teknologi Robotik Dalam Prosedur Bedah
Lebih lanjut dia mengatakan terkait tingginya harga tiket pesawat harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Guna mengakselerasikan kunjungan ke semua daerah termasuk DIY.
Bobby mengatakan regulator harus harus tegas dalam menangani masalah tingginya harga tiket pesawat. Saat ini belum stabil dan sulit dikendalikan karena beban cost dan sisi monopoli yang menjadi masalah bersama.
"Kalau industri kan sifatnya mengikuti regulasi yang ada," lanjutnya.
Ia menyebut tantangan yang cukup dikhawatirkan justru pada tahun depan. Proyeksi deflasi dan menurunkan daya beli menjadi masalah perkembangan pariwisata ke depan. Perlu dilakukan mitigasi baik dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk melakukan antisipasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
WhatsApp menghadirkan Meta Business Agent untuk bisnis Indonesia. Agen AI ini membantu melayani pelanggan 24 jam dan mempercepat respons hingga penjualan.
Jetty Muara Sungai Bogowonto di Kulonprogo rusak akibat gelombang tinggi. BBWSSO menyebut kerusakan sekitar 2 persen dan fungsi masih aman.
Ferran Torres dikabarkan pindah dari Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 48,5 juta euro. Simak profil dan perjalanan kariernya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
DPRD Kota Jogja meminta penyaluran bansos beras tak hanya terpaku DTSEN agar warga yang baru jatuh miskin tidak terlewat.