Sidak 4 SPPG di Kota Jogja, Pemda DIY Tekankan Kepatuhan SOP MBG
Pemda DIY menyidak empat SPPG di Kota Jogja untuk memeriksa kebersihan dapur, kepatuhan SOP, dan mencegah kontaminasi makanan MBG.
Ilustrasi replika uang di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (4/4).Bisnis Indonesia-Abdullah Azzam
Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25% pada Juli 2025. Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Y. Sri Susilo berharap turunnya BI Rate bisa segera diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan.
Menurutnya dengan turunnya suku bunga perbankan termasuk suku bunga investasi, maka realisasi investasi akan meningkat. Dampak lebih jauhnya lapangan kerja akan semakin terbuka.
BACA JUGA: Dalam 2 Hari, BMKG Catat 55 Kali Rentetan Gempa Bumi Terjadi di Probolinggo Akibat Aktivitas Sesar Aktif
Dia menjelaskan realisasi investasi suatu industri akan menarik aktivitas industri lain, baik melalui keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang. Multiplier efeknya akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Penurunan suku bunga acuan tersebut diharapkan segera diikuti penurunan suku bunga perbankan," ucapnya, Jumat (18/7/2025).
Lebih lanjut dia mengatakan penurunan BI Rate dapat dipahami karena inflasi sampai bulan Juni relatif terkendali. Di samping itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga relatif stabil.
"Penurunan suku bunga acuan BI, dari 5,50% menjadi 5,25% dapat dimengerti," lanjutnya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 15-16 Juli 2025 memutuskan menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,00%.
BACA JUGA: Hasil Monitoring Beras di Jogja, Belum Ditemukan Penyimpangan
Keputusan ini konsisten dengan semakin rendahnya prakiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5 plus minus 1%, terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya, serta perlunya untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya kedepan BI akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi sesuai dengan dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan domestik.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial akomodatif terus dioptimalkan dengan berbagai strategi untuk meningkatkan kredit/pembiayaan, menurunkan suku bunga, dan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, serta penguatan infrastruktur dan konsolidasi struktur industri sistem pembayaran," tuturnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY menyidak empat SPPG di Kota Jogja untuk memeriksa kebersihan dapur, kepatuhan SOP, dan mencegah kontaminasi makanan MBG.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Pemkab Sleman dan Klaten menyepakati pembagian PBJT Candi Prambanan untuk mengoptimalkan PAD dan pengembangan kawasan wisata.
Lomba menyanyi Manunggal Fair Kulonprogo batal mendadak. Peserta kecewa karena sudah datang dan menyiapkan penampilan.
Biaya Haji 2027 berpotensi naik. Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf menyebut kenaikan harga avtur dan situasi geopolitik jadi pertimbangan.