Mentrans Dorong Hunian Vertikal Tipe 45 di Lokasi Transmigrasi
Mentrans dorong hunian vertikal dan standar rumah tipe 45 di kawasan transmigrasi untuk solusi lahan sempit.
Ilustrasi gula./Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut kebocoran gula rafinasi di pasar tradisional menjadi salah satu penyebab gula produksi petani tidak terserap. Gula rafinasi yang seharusnya untuk industri, justru dijual lebih murah kepada konsumen.
"Gula rafinasi itu harganya jauh lebih murah daripada gula konsumsi. Nah kalau gula rafinasi yang lebih murah ini leaking, kan ini namanya kejahatan dong ya," ujar Sudaryono di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Ia menjelaskan gula rafinasi merupakan gula yang diperuntukkan bagi industri dan tidak diperjualbelikan di pasar tradisional.
Namun, menurut Sudaryono, gula rafinasi yang bocor ke konsumen ternyata banyak ditemukan di pasar tradisional.
Dengan harga gula rafinasi yang lebih murah, maka pedagang mendapat keuntungan lebih saat dijual ke konsumen.
"Ditemukan di banyak pasar. Gula rafinasi itu kan strict, dia kebutuhannya untuk kebutuhan industri saja, makanan dan minuman dan seterusnya ya. Itu kan nggak boleh dijual kiloan kepada masyarakat," ujar dia.
Sudaryono mengatakan pemerintah akan menindak tegas pelaku yang melakukan peredaran gula rafinasi, baik dari pedagang maupun perusahaan yang melakukan gula impor gula rafinasi.
BACA JUGA: Pagu Anggaran Pendidikan di Gunungkidul Capai 35,1 Persen
Penindakan itu akan dilakukan melalui beberapa cara mulai dari pengusaha tersebut dimasukkan daftar hitam hingga pidana. "Petani sudah dirugikan, dan dia ngambil untung dengan cara yang nggak benar. Itu yang harus kami tindak tegas," katanya.
Namun demikian, ia belum bisa menyebutkan berapa jumlah kebocoran gula rafinasi yang tersebar di masyarakat.
Kebocoran atau rembesan penjualan gula rafinasi bagi konsumen, lanjut Sudaryono, telah menimbulkan efek signifikan bagi petani.
"Efeknya adalah gula konsumsi yang diproduksi dari tebu petani yang digiling di pabrik gula, itu serapannya rendah. (Kalau) 100 ribu ton macet (tidak terserap) sehingga kan itu merugikannya ya, merugikan petani," kata Sudaryono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Mentrans dorong hunian vertikal dan standar rumah tipe 45 di kawasan transmigrasi untuk solusi lahan sempit.
Dishub Solo memberi sanksi kepada jukir yang menarik tarif parkir Rp5.000 di atas ketentuan dan mencatut nama RT di Jalan Gajahmada.
GSI SMP Sleman 2026 menjadi ajang pencarian bibit pesepak bola muda untuk memperkuat kontingen Sleman pada GSI tingkat DIY.
FWA 5G diprediksi menjadi mesin pertumbuhan baru internet rumah di Indonesia dengan kualitas mendekati FTTH dan menjangkau wilayah minim fiber.
Brajamusti siap mengawal kajian renovasi Stadion Mandala Krida jika anggaran uji tanah disetujui. DPRD DIY mengupayakan pergeseran anggaran MC-0.
Akademisi UPN Veteran Yogyakarta menilai paparan Prabowo dalam Sarasehan Kebangsaan memperjelas arah pembangunan, ideologi, dan kemandirian ekonomi.