IHSG Menguat ke 5.731, Saham BBCA dan BBRI Topang Penguata

Akbar Maulana al Ishaqi
Akbar Maulana al Ishaqi Kamis, 02 Juli 2026 11:27 WIB
IHSG Menguat ke 5.731, Saham BBCA dan BBRI Topang Penguata

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Hingga pukul 09.01 WIB, indeks naik 0,63% atau 36,13 poin ke level 5.731,25 dengan dukungan penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BBRI, AMMN, ASII, dan MORA.

Meski bergerak di zona hijau pada awal perdagangan, pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen ekonomi domestik. Sejumlah data terbaru menunjukkan pelemahan aktivitas manufaktur hingga defisit neraca perdagangan yang dinilai masih membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.

Berdasarkan data IDX Mobile, volume transaksi pada awal perdagangan mencapai 636,4 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp500,9 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp10.059 triliun.

Sebanyak 252 saham tercatat menguat pada pembukaan perdagangan. Di sisi lain, 161 saham bergerak melemah, sedangkan 546 saham lainnya masih stagnan.

Penguatan IHSG ditopang oleh kenaikan sejumlah saham unggulan. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 2,68% ke level Rp5.750, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 0,37% menjadi Rp2.680, PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) bertambah 0,36% ke Rp6.975, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 2,18% ke Rp3.280, serta PT Astra International Tbk. (ASII) menguat 0,65% menjadi Rp4.630.

Sementara itu, beberapa saham berkapitalisasi besar justru dibuka di zona merah. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 0,30% ke Rp3.350, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) melemah 0,43% menjadi Rp11.700, sedangkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) terkoreksi 0,41% ke level Rp2.430.

Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (1/7/2026), IHSG ditutup menguat 0,92% di level 5.695. Untuk perdagangan hari ini, indeks diperkirakan bergerak pada kisaran support 5.600 dan resistance 5.800.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal Stochastic RSI mulai mendekati area oversold. Namun, indikator MACD masih menunjukkan potensi terjadinya death cross sehingga IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi pada rentang 5.600 hingga 5.800.

Dari sisi fundamental, perhatian investor tertuju pada sejumlah indikator ekonomi yang baru dirilis. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50 pada Mei 2026. Capaian tersebut menjadi level terendah sejak Juni 2025 sekaligus menandai kontraksi kedua sepanjang tahun ini. Penurunan dipicu oleh melemahnya pesanan baru dan penjualan ekspor.

Selain itu, Indonesia secara tidak terduga mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit tersebut menjadi yang pertama sejak April 2020. Pada periode yang sama, ekspor turun 5,73% secara tahunan (year on year/YoY), jauh di bawah ekspektasi pertumbuhan 6,4%. Sebaliknya, impor meningkat 22,16% YoY atau melampaui proyeksi 19,5%, terutama didorong kenaikan impor sektor migas.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings juga menilai cadangan devisa Indonesia masih berada di bawah tekanan meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin. Menurut penilaian tersebut, sentimen investor masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, serta rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online