IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Tertekan Sentimen Global

Newswire
Newswire Rabu, 08 Juli 2026 11:17 WIB
IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Tertekan Sentimen Global

Ilustrasi. /Bisnis Indonesia-Felix Jody Kinarwan

Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026), seiring tekanan dari pasar global dan meningkatnya ketidakpastian eksternal.

IHSG tercatat turun tipis 2,32 poin atau 0,04 persen ke level 5.984,18 pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga ikut terkoreksi 0,48 poin atau 0,08 persen ke posisi 594,44.

Sentimen Global Picu Tekanan

Pelemahan IHSG tidak lepas dari kombinasi sentimen global yang mendorong pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati atau risk-off. Tekanan datang dari melemahnya bursa saham Wall Street, kenaikan harga minyak dunia, hingga meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Konflik kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran serta mencabut izin ekspor minyak negara tersebut. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah global, di mana Brent naik sekitar 3 persen ke level 74,16 dolar AS per barel, sementara WTI menguat hampir 3 persen ke 70,44 dolar AS per barel.

Faktor Domestik Ikut Dicermati

Dari dalam negeri, investor juga mencermati masuknya Indonesia ke dalam watchlist klasifikasi pasar S&P Dow Jones Indices untuk 2027. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor asing, terutama jika tidak diiringi dengan perbaikan aksesibilitas pasar.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai kombinasi sentimen global dan domestik tersebut berpotensi membuat pergerakan IHSG cenderung konsolidatif dengan bias melemah.

“Pergerakan IHSG diperkirakan masih akan bergerak hati-hati, meski fundamental domestik yang relatif solid dapat menahan tekanan jual lebih dalam,” tulis tim riset dalam kajiannya.

Data Ekonomi Jadi Penopang

Di tengah tekanan, terdapat sejumlah sentimen positif dari dalam negeri. Pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,47 persen yoy. Kondisi ini menunjukkan likuiditas dan aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat.

Dari Amerika Serikat, data ekonomi menunjukkan sinyal beragam. Defisit perdagangan Mei 2026 melebar menjadi 77,6 miliar dolar AS, sementara indeks optimisme ekonomi mengalami peningkatan dan ekspektasi inflasi naik ke 3,7 persen.

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Pasar Global Bergerak Variatif

Pada perdagangan sebelumnya, bursa Eropa mayoritas ditutup melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,24 persen, DAX Jerman melemah 0,37 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,51 persen. Sementara itu, FTSE 100 Inggris mencatat kenaikan tipis 0,13 persen.

Di Amerika Serikat, Wall Street menunjukkan pergerakan campuran. Indeks Dow Jones naik 0,25 persen, S&P 500 menguat 0,45 persen, sedangkan Nasdaq justru terkoreksi cukup dalam sebesar 1,77 persen.

Untuk kawasan Asia, mayoritas indeks saham juga dibuka melemah. Nikkei turun 0,64 persen, Shanghai melemah tipis 0,03 persen, dan Kospi terkoreksi 1,69 persen. Sementara itu, Strait Times menjadi salah satu yang masih menguat dengan kenaikan 0,22 persen.

Menanti Arah Kebijakan The Fed

Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau The Fed Meeting Minutes. Dokumen tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga ke depan.

Dengan berbagai sentimen yang berkembang, volatilitas pasar global diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek, yang turut memengaruhi pergerakan IHSG.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online