Permintaan Kakao dari Australia Naik, Produksi Nasional Diuji

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Kamis, 16 Juli 2026 13:07 WIB
Permintaan Kakao dari Australia Naik, Produksi Nasional Diuji

Tanaman Kakao - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Peluang ekspor kakao Indonesia ke Australia kian terbuka setelah Negeri Kanguru itu menyatakan minat untuk meningkatkan impor berbagai produk kakao dari Indonesia. Namun, di balik peluang tersebut, industri pengolahan kakao nasional masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan pasokan biji kakao untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Minat Australia menambah impor kakao menjadi momentum penting bagi pelaku usaha nasional, terutama industri pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Akan tetapi, kapasitas produksi dalam negeri dinilai perlu diperkuat agar mampu menangkap peluang ekspor baru yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Kinerja ekspor kakao Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang positif dari sisi nilai perdagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kakao mencapai sekitar US$3,59 miliar atau meningkat 36% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$2,64 miliar.

Meski demikian, peningkatan nilai ekspor tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga kakao di pasar internasional. Dari sisi volume, ekspor justru mengalami penurunan sekitar 2% dari 348.092 ton pada 2024 menjadi 342.653 ton pada 2025. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan nilai ekspor belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan produksi nasional.

Produk lemak dan minyak kakao masih menjadi penyumbang terbesar ekspor kakao Indonesia dengan nilai sekitar US$2,2 miliar atau setara 62% dari total ekspor. Produk tersebut menjadi salah satu andalan industri pengolahan kakao nasional yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Amerika Serikat dan India masih menjadi pasar ekspor terbesar produk kakao Indonesia dengan nilai masing-masing sekitar US$619 juta dan US$618 juta. Di posisi berikutnya terdapat Tiongkok dengan nilai ekspor mencapai sekitar US$446 juta.

Sementara itu, ekspor produk kakao Indonesia ke Australia sepanjang 2025 tercatat mencapai US$150,08 juta dengan volume sebesar 12.296 ton. Nilai tersebut diperkirakan masih berpotensi meningkat seiring bertambahnya kebutuhan industri cokelat di Australia.

Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite mengatakan konsumsi cokelat di negaranya terus meningkat. Di sisi lain, kapasitas produksi kakao domestik Australia masih terbatas karena hanya ditopang oleh perkebunan kakao berskala kecil di Queensland.

Akibatnya, Australia masih bergantung pada impor biji kakao maupun berbagai produk olahan kakao untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan cokelatnya.

"Kami juga mengimpor kakao, mentega kakao, dan pasta kakao dari Indonesia. Dan kami ingin melakukannya lebih banyak lagi," ungkap Matt di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menurut Matt, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen kakao terbesar di kawasan sehingga berpeluang menjadi mitra utama dalam memenuhi kebutuhan industri cokelat Australia.

Peluang tersebut juga diperkuat melalui implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang membuka ruang lebih luas bagi peningkatan perdagangan kedua negara, termasuk untuk komoditas kakao dan produk turunannya.

Pemerintah Australia turut menjalankan Program Katalis yang saat ini memasuki fase kedua untuk mendukung pelaku usaha Indonesia melalui pendampingan bisnis, riset pasar, hingga mempertemukan eksportir dengan calon pembeli di Australia.

Program tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam periode 2022 hingga 2025, nilai ekspor produk kakao Indonesia ke Australia tercatat meningkat hampir tiga kali lipat. Peningkatan ini didorong oleh semakin diterimanya produk cokelat premium asal Indonesia di pasar Australia.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan peningkatan daya saing produk bernilai tambah menjadi salah satu fokus pemerintah agar semakin banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mampu menembus pasar ekspor.

Menurutnya, industri kakao menjadi salah satu contoh keberhasilan hilirisasi yang mampu menghasilkan produk premium dengan daya saing internasional.

"Sekarang kita bisa menciptakan produk premium cokelat yang kemudian kita ekspor ke luar negeri, salah satunya ke Australia," terangnya.

Peluang peningkatan ekspor ke Australia diharapkan dapat menjadi pendorong penguatan industri kakao nasional. Namun, ketersediaan bahan baku tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan ekspor dapat berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi dan keberlanjutan industri pengolahan kakao di dalam negeri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis