Piala Dunia 2026 Jadi Mesin Uang FIFA, Cuan Capai Rp269 Triliun

Jumali
Jumali Senin, 20 Juli 2026 20:57 WIB
Piala Dunia 2026 Jadi Mesin Uang FIFA, Cuan Capai Rp269 Triliun

Trofi Piala Dunia./FIFA


Harianjogja.com, JOGJA—Piala Dunia 2026 tak hanya menghasilkan juara baru, tetapi juga memecahkan rekor bisnis terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. FIFA diperkirakan mengantongi pendapatan sekitar Rp269 triliun sepanjang turnamen, didorong ledakan penjualan tiket, sponsor, dan tingginya permintaan pertandingan hingga final.

Berdasarkan laporan The Guardian yang terbit Senin (20/7/2026), pendapatan FIFA selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 diperkirakan mencapai sekitar 15 miliar dolar AS atau setara Rp269,1 triliun. Angka tersebut melampaui target awal sebesar 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp197,3 triliun.

Lonjakan pemasukan tersebut menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai edisi paling sukses secara komersial sejak turnamen pertama digelar pada 1930.

Besarnya pendapatan FIFA tidak lepas dari tingginya minat publik terhadap turnamen yang untuk pertama kalinya diikuti 48 negara peserta. Format baru itu menghadirkan lebih banyak pertandingan, lebih banyak tiket yang dijual, serta meningkatkan nilai komersial berbagai produk yang berkaitan dengan Piala Dunia.

Salah satu penyumbang terbesar pemasukan berasal dari sektor penjualan dan penjualan kembali tiket pertandingan. FIFA memperoleh komisi dari setiap transaksi yang berlangsung melalui platform resminya. Dalam skema tersebut, organisasi sepak bola dunia itu menerima komisi dari pihak penjual maupun pembeli tiket.

Tingginya permintaan membuat harga tiket sejumlah pertandingan melonjak tajam, terutama menjelang babak semifinal dan final.

Partai final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina bahkan disebut sebagai salah satu ajang olahraga dengan harga tiket termahal yang pernah terjadi di Amerika Serikat.

Data yang dikutip dari portal resmi FIFA menunjukkan tiket final sempat ditawarkan melalui layanan Last Minute Sales dengan harga mencapai 32.000 dolar AS atau sekitar Rp574 juta per lembar. Hanya dalam waktu singkat tiket tersebut habis terjual.

Harga yang lebih fantastis muncul di platform penjualan kembali resmi FIFA. Pada puncaknya, tiket final tercatat dipasarkan hingga 2,3 juta dolar AS atau setara sekitar Rp41,2 miliar per lembar.

Fenomena tersebut memicu perdebatan luas di kalangan pencinta sepak bola. Banyak pihak menilai Piala Dunia semakin sulit dijangkau oleh suporter biasa karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.

Selain harga tiket, kritik juga diarahkan pada mahalnya produk resmi turnamen serta semakin banyaknya elemen komersial yang muncul selama pertandingan berlangsung.

Laporan Sports Illustrated menyebut jeda hidrasi atau hydration breaks yang disponsori perusahaan tertentu menjadi salah satu simbol kuat komersialisasi dalam Piala Dunia 2026. Meski menuai kritik, model bisnis tersebut terbukti memberikan pemasukan signifikan bagi FIFA.

Namun di sisi lain, FIFA menegaskan pendapatan tersebut tidak hanya digunakan untuk operasional organisasi. Sebagian besar dana akan kembali didistribusikan kepada asosiasi anggota untuk mendukung pengembangan sepak bola di berbagai negara.

Dana tersebut antara lain digunakan untuk pembangunan infrastruktur olahraga, pengembangan sepak bola usia dini, kompetisi akar rumput, program pelatihan pelatih, hingga penguatan sepak bola putri.

Besarnya pendapatan dari Piala Dunia 2026 juga diperkirakan akan berdampak pada dinamika politik internal FIFA. Presiden FIFA Gianni Infantino disebut berada dalam posisi yang semakin kuat menjelang agenda pemilihan kepemimpinan organisasi pada 2027.

Saat ini, Infantino telah mendapatkan dukungan dari lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA. Keberhasilan membawa organisasi meraih pendapatan jauh di atas target dinilai menjadi salah satu modal politik penting yang memperkuat posisinya.

Dengan tambahan pendapatan sekitar Rp71 triliun dibanding target awal, FIFA menunjukkan bahwa Piala Dunia kini bukan hanya panggung olahraga terbesar di dunia, tetapi juga menjadi salah satu mesin ekonomi global paling kuat dalam industri hiburan modern.

Rekor finansial yang tercipta sepanjang Piala Dunia 2026 kemungkinan akan menjadi standar baru bagi penyelenggaraan turnamen-turnamen berikutnya, termasuk Piala Dunia 2030 yang akan digelar di tiga benua dan enam negara sekaligus.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online