Reuters dan Financial Times Ulas Pengunduran Diri Perry Warjiyo

Jumali
Jumali Senin, 27 Juli 2026 11:37 WIB
Reuters dan Financial Times Ulas Pengunduran Diri Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Kamis (9/4/2020)./JIBI-Dok. Bank Indonesia

Harianjogja.com, JOGJA—Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kalangan media dan pelaku pasar internasional. Sejumlah media asing menempatkan kabar tersebut sebagai perkembangan penting karena terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dua media internasional yang secara khusus mengulas peristiwa ini adalah Financial Times dan Reuters. Keduanya menyoroti dampak potensial dari pergantian kepemimpinan di bank sentral Indonesia terhadap stabilitas ekonomi, kebijakan moneter, serta kepercayaan investor.

Financial Times dalam laporannya menilai pengunduran diri Perry Warjiyo menambah ketidakpastian baru bagi Indonesia yang saat ini merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Media berbasis di Inggris tersebut menyoroti momentum pengunduran diri yang terjadi ketika Bank Indonesia masih berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global.

Laporan itu mengingatkan bahwa rupiah termasuk salah satu mata uang pasar berkembang yang mengalami tekanan cukup besar sepanjang tahun ini. Dalam upaya meredam pelemahan mata uang domestik, Bank Indonesia diketahui telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sejak Mei.

Financial Times juga menyoroti bahwa Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri dengan alasan pribadi. Sementara itu, tugas dan tanggung jawab gubernur untuk sementara dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, hingga proses penunjukan gubernur definitif selesai dilakukan.

Sorotan serupa datang dari Reuters yang mengumpulkan berbagai pandangan ekonom dan analis internasional mengenai dampak pengunduran diri tersebut. Banyak pihak menilai keputusan itu cukup mengejutkan karena Perry selama ini dipandang sebagai figur penting dalam menjaga stabilitas kebijakan moneter Indonesia.

Ekonom Senior DBS Bank Singapura, Radhika Rao, menilai Perry Warjiyo memainkan peran sentral dalam mengarahkan kebijakan ekonomi Indonesia selama menghadapi berbagai periode penuh tantangan, mulai dari pandemi Covid-19 hingga gejolak geopolitik dan ekonomi global.

Menurut Rao, di bawah kepemimpinan Perry, Bank Indonesia mengembangkan pendekatan kebijakan yang lebih terintegrasi. Selain memanfaatkan instrumen suku bunga, BI juga aktif menggunakan kebijakan likuiditas, intervensi pasar valuta asing, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pendekatan tersebut dinilai memberi ruang yang lebih luas bagi bank sentral dalam mengelola inflasi, menjaga stabilitas rupiah, dan mendukung pertumbuhan kredit di sektor riil. Karena itu, keberlanjutan kebijakan menjadi salah satu perhatian utama pasar setelah pengumuman pengunduran diri tersebut.

Di sisi lain, analis ASEAN dari Aletheia Capital Singapura, Angus Mackintosh, menilai respons pasar kemungkinan cenderung negatif dalam jangka pendek. Ia menyebut Perry sebagai sosok yang selama ini dianggap mampu memberikan kepastian dan konsistensi arah kebijakan ekonomi.

Mackintosh mengatakan perhatian investor kini akan tertuju pada proses suksesi dan siapa figur yang nantinya dipilih untuk memimpin Bank Indonesia secara definitif. Menurutnya, sosok pengganti akan menjadi faktor penting dalam menentukan bagaimana pasar menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Meski demikian, keberadaan Destry Damayanti sebagai pejabat sementara gubernur dinilai dapat membantu menjaga kesinambungan kebijakan selama masa transisi. Langkah tersebut dianggap penting untuk meredam kekhawatiran pasar sekaligus memastikan operasional bank sentral tetap berjalan normal.

Sorotan luas dari media internasional menunjukkan bahwa posisi Gubernur Bank Indonesia memiliki arti strategis tidak hanya bagi perekonomian domestik, tetapi juga bagi persepsi investor global terhadap Indonesia. Karena itu, proses pergantian kepemimpinan BI diperkirakan akan terus menjadi perhatian dalam beberapa waktu ke depan, terutama di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online