Neraca Dagang RI Defisit US$450 Juta pada Juni, Impor Lampaui Ekspor

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Senin, 03 Agustus 2026 12:47 WIB
Neraca Dagang RI Defisit US$450 Juta pada Juni, Impor Lampaui Ekspor

Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan defisit pada Juni 2026 sebesar US$450 juta, setelah nilai impor melampaui ekspor. Meski masih berada di zona negatif, defisit tersebut lebih kecil dibandingkan Mei 2026 yang mencapai US$1,61 miliar.

Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis resmi pada Senin (3/8/2026). Defisit terutama dipengaruhi masih besarnya defisit perdagangan komoditas migas.

Ekspor Naik, tetapi Belum Mampu Menyalip Impor

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$25,46 miliar, meningkat 8,84% dibandingkan Juni 2025 (year on year/YoY).

Dari total tersebut, ekspor migas tercatat US$1,07 miliar atau turun 3,78%, sedangkan ekspor nonmigas meningkat 9,46% menjadi US$24,39 miliar.

Menurut Ateng, kenaikan ekspor terutama didorong oleh sejumlah komoditas nonmigas, yakni bahan bakar mineral (HS27) yang naik 49,67%, nikel dan barang daripadanya (HS75) meningkat 69,30%, serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) yang tumbuh 10,45%.

Impor Melonjak Lebih Tinggi

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$25,91 miliar, atau meningkat 34,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor migas tercatat sebesar US$4,56 miliar, melonjak 105,15% secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas mencapai US$21,35 miliar, naik 25,05% dibandingkan Juni 2025.

Ateng menjelaskan peningkatan impor Juni 2026 terutama ditopang oleh impor nonmigas yang memberikan andil sebesar 22,17% terhadap kenaikan impor secara keseluruhan.

Defisit Dipicu Perdagangan Migas

BPS mencatat defisit neraca perdagangan Juni 2026 berasal dari sektor migas yang masih mencatatkan kinerja negatif.

"Pada Juni 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$0,45 miliar [US$450 juta]. Defisit pada bulan Juni 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar US$3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng pada Senin, (3/8/2026).

Meski demikian, neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus US$3,04 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sebelumnya, sejumlah ekonom telah memperkirakan Indonesia masih akan mengalami defisit neraca perdagangan pada Juni 2026, meski nilainya diproyeksikan lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, memperkirakan neraca dagang Juni 2026 akan mencatat defisit sekitar US$1 miliar.

"Jadi, peluang untuk kembali surplus tetap ada, tetapi belum menjadi skenario utama," kata Josua kepada Bisnis, Minggu (2/8/2026).

Menurut Josua, perbaikan terutama didukung oleh pemulihan ekspor serta harga minyak yang lebih rendah selama sebagian besar Juni sehingga mampu menekan nilai impor migas.

Ia memperkirakan ekspor Juni 2026 tumbuh sekitar 1,86% (YoY) setelah pada Mei mengalami kontraksi 5,73% (YoY). Permintaan dari mitra dagang utama seperti China, Amerika Serikat, Jepang, dan India dinilai masih menopang pertumbuhan ekspor.

Namun demikian, normalisasi harga batu bara dan minyak sawit membuat kenaikan volume ekspor belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan nilai ekspor.

Di sisi impor, Josua memperkirakan pertumbuhan mencapai 28,66% (YoY), didorong oleh meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, permintaan domestik, serta kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menilai data perdagangan Tiongkok menunjukkan ekspor ke Indonesia meningkat pada Juni sehingga pemulihan ekspor nasional belum mampu mengimbangi lonjakan impor.

Meski peluang kembali mencatat surplus masih terbuka apabila ekspor komoditas maupun manufaktur melampaui perkiraan atau impor migas turun lebih tajam, Josua menilai skenario yang lebih realistis adalah defisit yang terus mengecil.

Menurutnya, defisit perdagangan dalam satu atau dua bulan tidak selalu berdampak negatif apabila kenaikan impor didominasi mesin, peralatan, dan bahan baku yang dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online