Ekonomi Vietnam Diproyeksi Tumbuh 7,8 Persen pada 2026, Indonesia 5,2 Persen

Jumali
Jumali Jum'at, 25 September 2026 09:37 WIB
Ekonomi Vietnam Diproyeksi Tumbuh 7,8 Persen pada 2026, Indonesia 5,2 Persen

Investasi - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Ekonomi Vietnam diproyeksikan tumbuh paling tinggi di antara negara-negara Asia Tenggara pada 2026. Dalam Asian Development Outlook (ADO) September 2026, Asian Development Bank (ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam menjadi 7,8%.

Proyeksi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan terjadi di Indonesia pada tahun yang sama, yakni 5,2%. ADB menyebut Vietnam mencatat kenaikan proyeksi terbesar di kawasan Asia Tenggara setelah kinerja ekonomi pada paruh pertama 2026 lebih kuat dari perkiraan.

Kenaikan proyeksi Vietnam cukup signifikan. Pada ADO April 2026, ADB memperkirakan ekonomi Vietnam tumbuh 7,2%. Angka itu masih dipertahankan dalam ADO Juli, sebelum dinaikkan menjadi 7,8% dalam laporan September. Untuk 2027, pertumbuhan ekonomi Vietnam diproyeksikan mencapai 7,6%.

Ekonomi Vietnam tumbuh 8,2% pada semester I

Kinerja ekonomi Vietnam sepanjang paruh pertama tahun ini menjadi salah satu alasan ADB meningkatkan proyeksinya.

Ekonomi Vietnam tercatat tumbuh 8,2% pada semester I 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 7,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Aktivitas ekonomi ditopang oleh konsumsi domestik, investasi dan kinerja sektor manufaktur serta jasa. ADB mencatat kondisi ekonomi pada paruh pertama 2026 di Asia Tenggara secara umum tetap tangguh, meski penggerak pertumbuhan berbeda-beda di setiap negara.

Investasi asing juga menjadi salah satu penopang penting. Berdasarkan data pemerintah Vietnam, nilai FDI terdaftar hingga 31 Agustus 2026 mencapai US$40,63 miliar, naik 55,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, FDI untuk proyek baru mencapai US$21,72 miliar, meningkat 96,8% secara tahunan. Sebanyak 2.771 proyek baru mendapatkan izin hingga akhir Agustus.

Investasi infrastruktur ikut menopang pertumbuhan

Selain modal asing, investasi pemerintah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Vietnam.

Belanja untuk proyek-proyek infrastruktur berskala besar menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga momentum pertumbuhan. Peningkatan investasi tersebut berjalan bersamaan dengan konsumsi domestik yang tetap menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi.

Kebijakan fiskal juga diarahkan untuk mendukung permintaan masyarakat, termasuk pemangkasan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 2 poin persentase yang berlaku hingga akhir 2026.

Namun, pertumbuhan berbasis investasi juga membawa sejumlah risiko. Ketergantungan yang lebih besar terhadap pembiayaan perbankan dapat meningkatkan risiko likuiditas, ketidaksesuaian jatuh tempo dan konsentrasi kredit.

ADB menilai keberlanjutan pertumbuhan akan sangat bergantung pada kemampuan proyek-proyek investasi meningkatkan produktivitas sekaligus menghasilkan arus kas yang memadai untuk memenuhi kewajiban utang.

Risiko ekonomi Vietnam masih membayangi

Di balik prospek pertumbuhan yang tinggi, Vietnam tetap menghadapi sejumlah risiko eksternal.

Ketidakpastian perdagangan global, ketegangan geopolitik dan tingginya biaya energi dapat memengaruhi ekspor, arus investasi dan tekanan inflasi. Risiko tersebut juga menjadi perhatian ADB dalam proyeksi ekonomi Asia dan Pasifik secara keseluruhan.

ADB memperkirakan inflasi Vietnam berada di level 4,3% pada 2026, sebelum turun menjadi 4% pada 2027. Pertumbuhan ekonomi kemudian diperkirakan tetap tinggi pada 2027 dengan proyeksi 7,6%.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Indonesia tetap berada di 5,2% untuk 2026 dan 2027 berdasarkan proyeksi ADB.

Dengan proyeksi 7,8%, Vietnam menjadi salah satu titik pertumbuhan paling menonjol di Asia Tenggara dalam ADO September 2026. ADB juga menaikkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Tenggara berkembang menjadi 4,7% pada 2026 dari 4,6% sebelumnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online