Stok Minyak Singapura Turun, Indonesia Jadi Pembeli Bensin Terbesar

Jumali
Jumali Jum'at, 25 September 2026 13:27 WIB
Stok Minyak Singapura Turun, Indonesia Jadi Pembeli Bensin Terbesar

Foto ilustrasi krisis BBM. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Persediaan produk minyak di Singapura menyusut ke level terendah dalam tiga pekan. Di tengah penurunan stok tersebut, Indonesia menjadi tujuan terbesar ekspor bensin dari pusat perdagangan bahan bakar Asia tersebut.

Data Enterprise Singapore menunjukkan total persediaan produk minyak di daratan Singapura mencapai 39,68 juta barel pada pekan yang berakhir 23 September 2026. Angka tersebut turun 6,9% dibandingkan pekan sebelumnya.

Penurunan terjadi pada seluruh kelompok produk minyak, mulai dari minyak residu, produk sulingan menengah, hingga sulingan ringan.

Stok Minyak Residu Turun di Bawah 20 Juta Barel

Persediaan minyak residu turun 1,8% secara mingguan menjadi 19,78 juta barel, atau sekitar 3,11 juta ton. Jumlah tersebut merupakan level terendah dalam empat pekan sekaligus pertama kalinya dalam tiga pekan stok minyak residu Singapura berada di bawah 20 juta barel.

Meski demikian, rata-rata persediaan minyak residu masih lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Dari sisi perdagangan, impor minyak residu Singapura turun 9,5% menjadi sekitar 828.000 ton dalam sepekan hingga 23 September. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi pemasok utama.

Sementara itu, ekspor minyak residu melonjak 79,1% dari pekan sebelumnya menjadi lebih dari 400.000 ton. Sebagian besar pengiriman ditujukan ke China dan Malaysia.

Peningkatan pasokan melalui jalur arbitrase pada September turut menekan premi minyak residu di pasar spot.

Stok Diesel dan Produk Sulingan Ikut Menyusut

Pada kelompok produk sulingan menengah, persediaan turun untuk pertama kalinya dalam sebulan menjadi 8,13 juta barel.

Penurunan tersebut terjadi seiring berkurangnya ekspor bersih bahan bakar jet dan minyak tanah. Pada saat yang sama, impor bahan bakar jet dari China kembali masuk ke Singapura setelah sempat berhenti selama satu pekan.

Untuk diesel dan gasoil, ekspor bersih meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya. Sebaliknya, impor turun 63%.

Pasokan diesel dan gasoil terutama datang dari Korea Selatan dan Malaysia. Adapun Australia, Malaysia, dan Indonesia menjadi tujuan utama ekspor.

Indonesia Jadi Tujuan Terbesar Ekspor Bensin Singapura

Persediaan produk sulingan ringan, termasuk bensin dan nafta, juga mengalami penurunan. Stok kelompok produk ini berada di 11,78 juta barel, terendah dalam tiga pekan.

Selama periode tersebut, impor bensin Singapura mencapai sekitar 189.000 ton atau setara 1,6 juta barel. Sementara ekspor bensin mencapai sekitar 540.000 ton.

Indonesia menjadi tujuan terbesar ekspor bensin Singapura dengan volume sekitar 231.000 ton. Posisi berikutnya ditempati Malaysia dengan sekitar 94.000 ton.

Dari sisi pasokan, China menjadi pemasok bensin terbesar ke Singapura dengan volume hampir 99.000 ton. Korea Selatan menyusul dengan sekitar 86.000 ton.

Arus perdagangan tersebut menunjukkan posisi Indonesia yang cukup besar dalam pasar bensin regional Singapura pada pekan tersebut.

Rusia Pemasok Utama Nafta

Selain bensin, perdagangan nafta juga mencatat volume yang cukup besar. Impor nafta Singapura mencapai sekitar 268.000 ton, setara kurang lebih 2,4 juta barel.

Rusia menjadi pemasok terbesar dengan hampir 148.000 ton, disusul Kuwait sekitar 29.000 ton.

Sementara itu, Singapura hanya mengekspor sekitar 17.000 ton nafta. Seluruh volume ekspor tersebut dikirim ke Indonesia.

Data tersebut menunjukkan arus perdagangan produk minyak Singapura tetap aktif meskipun total persediaan di pusat perdagangan bahan bakar tersebut turun ke level terendah dalam tiga pekan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online