Program MBG Kerek Harga Ayam, Inflasi September Capai 3,28%

Newswire
Newswire Kamis, 01 Oktober 2026 18:27 WIB
Program MBG Kerek Harga Ayam, Inflasi September Capai 3,28%

Ilustrasi, akvitias pedagang ayam potong di Pasar Argosari Kapanewon Wonosari./Harian Jogja-David Kurniawan

Harianjogja.com, JAKARTA—Program makan bergizi gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga daging ayam ras pada September 2026. Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut turut berkontribusi terhadap inflasi nasional yang mencapai 3,28% secara tahunan (year on year/YoY).

Angka inflasi September 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 2,65% YoY.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan kenaikan harga daging ayam ras pada September 2026 salah satunya dipengaruhi peningkatan kebutuhan untuk mendukung program MBG di sejumlah daerah.

"Terjadi peningkatan harga daging ayam ras pada kondisi September 2026, antara lain didorong oleh kebutuhan program MBG di beberapa daerah serta adanya kenaikan harga pakan ternak," jelas Ateng dalam konferensi pers rilis BPS di Kantor BPS, Jakarta (1/10/2026).

Produksi Cabai Ikut Tertekan

Selain meningkatnya permintaan yang berkaitan dengan MBG, tekanan terhadap harga pangan domestik juga dipengaruhi oleh penurunan produksi komoditas hortikultura.

Ateng mengungkapkan produksi cabai rawit mengalami penurunan di sejumlah daerah sentra produksi. Wilayah yang mengalami kondisi tersebut antara lain Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, hingga Magelang.

Sementara itu, pasokan cabai merah juga mengalami penyusutan, terutama di Bandung, Garut, dan Malang.

Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap harga komoditas pangan dan berkontribusi terhadap perkembangan inflasi pada September 2026.

Makanan Jadi Penyumbang Utama Inflasi Tahunan

Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama yang mendorong inflasi September 2026.

Kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 4,37% secara tahunan dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 1,28%.

Ateng mengatakan sejumlah komoditas pangan dan produk tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok tersebut.

"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara tahunan terutama adalah ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin [SKM], dan juga daging sapi," kata Ateng.

Dengan demikian, kenaikan harga daging ayam ras tidak berdiri sendiri. Perubahan harga komoditas tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan sejumlah bahan pangan lainnya yang memberikan tekanan terhadap inflasi nasional.

Inflasi Bulanan Capai 0,30 Persen

Jika dilihat secara bulanan atau month to month (MtM), inflasi September 2026 berada pada level 0,30%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi kontributor utama. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,88% dan memberikan andil sebesar 0,26% terhadap inflasi nasional.

Cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan mendorong inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,08%. Setelahnya terdapat cabai merah dengan andil 0,06% dan daging ayam ras sebesar 0,05%.

Komoditas lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan adalah beras sebesar 0,03%, telur ayam ras 0,02%, serta ikan segar dan kangkung yang masing-masing menyumbang andil 0,01%.

Data tersebut menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber utama tekanan harga pada September 2026, baik secara tahunan maupun bulanan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online