Pasar Tenaga Kerja Amerika Serikat Lesu, Pengangguran Naik Jadi 4,2%

Newswire
Newswire Minggu, 04 Oktober 2026 07:17 WIB
Pasar Tenaga Kerja Amerika Serikat Lesu, Pengangguran Naik Jadi 4,2%

Ilustrasi pengangguran. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan pada September 2026. Perekonomian AS hanya menambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%.

Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS) menunjukkan nonfarm payrolls meningkat 29.000 secara seasonally adjusted pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni penambahan 84.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran 4,1%, mengutip CNBC.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa laju pasar tenaga kerja AS semakin melandai. Pertumbuhan pekerjaan pada Agustus juga direvisi turun menjadi 133.000.

Sementara itu, data Juli yang sebelumnya menunjukkan penambahan 21.000 pekerjaan direvisi menjadi penurunan 10.000 pekerjaan.

Dengan revisi tersebut, jumlah pekerjaan pada Juli dan Agustus secara gabungan tercatat 60.000 lebih rendah dibandingkan laporan sebelumnya. BLS mencatat rata-rata penambahan pekerjaan dalam 12 bulan terakhir mencapai 45.000 per bulan.

Pasar Keuangan Merespons

Laporan pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan langsung mendapat respons dari pasar keuangan. Kondisi tersebut dipandang meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Kontrak berjangka saham AS menguat setelah laporan dirilis. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) mengalami penurunan.

Ekonom AS Jefferies Thomas Simons menilai data ketenagakerjaan terbaru semakin memperkuat alasan bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga pada Oktober.

“Bagi The Fed, angka ini seharusnya menjadi penegas terakhir untuk tidak menaikkan suku bunga pada Oktober,” kata Simons dalam catatannya.

Simons sebelumnya memperkirakan momentum pertumbuhan pekerjaan pada Agustus dapat berlanjut. Namun, data terbaru menunjukkan kondisi tersebut tidak berlangsung seperti yang diharapkan.

“Data penggajian melonjak pada Agustus, dan kami memperkirakan momentum tersebut akan berlanjut pada bulan ini, mengingat klaim pengangguran berada pada level yang secara historis rendah dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kini tampaknya angka Agustus tidak lebih dari sekadar pemulihan dari lemahnya perekrutan pada Juni dan Juli,” lanjutnya.

Tingkat Pengangguran Naik

Selain pertumbuhan jumlah pekerjaan, tingkat pengangguran menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan The Fed dalam menilai kondisi pasar tenaga kerja.

Data survei rumah tangga yang digunakan untuk menghitung tingkat pengangguran menunjukkan perkembangan lebih kuat dibandingkan survei perusahaan yang menjadi dasar perhitungan nonfarm payrolls.

Jumlah penduduk yang bekerja berdasarkan survei rumah tangga meningkat 406.000 pada September. Angkatan kerja juga bertambah 485.000, sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja naik 0,2 poin persentase menjadi 61,8%.

Angka partisipasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei. BLS juga mencatat tingkat pengangguran berada dalam kisaran sempit 4,1%–4,3% sejak Maret 2026.

Sementara itu, ukuran alternatif tingkat pengangguran yang mencakup pekerja yang tidak masuk angkatan kerja karena berkecil hati serta pekerja paruh waktu yang ingin bekerja lebih lama turun menjadi 7,6%.

Angka tersebut merupakan level terendah sejak Januari 2025.

Perekrutan Masih Terbatas

Di tengah kenaikan pengangguran, pasar tenaga kerja AS masih memperlihatkan pola perekrutan yang terbatas. Klaim pengangguran mingguan tetap relatif rendah, sedangkan tingkat pemutusan hubungan kerja juga berada pada level rendah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pejabat The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga berikutnya. Pada September, bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Namun, inflasi masih menjadi perhatian utama The Fed. Inflasi inti berdasarkan indikator yang menjadi acuan bank sentral berada pada laju tahunan 3%, masih di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Pertumbuhan upah juga mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Rata-rata upah per jam pekerja sektor swasta meningkat 0,1% pada September menjadi US$37,81.

Secara tahunan, rata-rata upah per jam meningkat 3%. Pertumbuhan tersebut menjadi yang terendah sejak Mei 2021.

BLS mencatat kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan.

Rata-rata jam kerja per pekan tidak berubah pada 34,4 jam. Perkembangan tersebut menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah sekaligus pelemahan penambahan pekerjaan, meskipun tingkat pengangguran masih berada di kisaran 4%.

Data pasar tenaga kerja September menjadi salah satu indikator yang akan diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online