Harga Pakan Melonjak, Peternak Telur Rugi hingga Rp7.000/Kg

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Rabu, 07 Oktober 2026 21:37 WIB
Harga Pakan Melonjak, Peternak Telur Rugi hingga Rp7.000/Kg

Suasana peternakan ayam petelur di Karangsari, Pengasih/Harian Jogja - Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, JAKARTA—Peternak ayam petelur menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya biaya pakan di tengah rendahnya harga telur di tingkat peternak. Kondisi tersebut membuat sebagian peternak bahkan tidak lagi mampu membiayai pakan hingga memilih mengosongkan kandang.

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) mengungkap kondisi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026).

Pengurus Pinsar Suwardi mengatakan tingginya ongkos produksi telah membuat sebagian peternak menyerah karena tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan pakan ayam.

"Bahkan hari ini ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya sudah kosong, Pak. Kenapa? Sudah tidak sanggup lagi untuk mengasih pakan ayam itu. Daripada berdosa, kemarin dijual dengan harga yang cuma Rp20.000. Harus bagaimana kami?" ungkap Suwardi, Rabu (7/10/2026).

Harga Jagung Dorong Biaya Pakan

Menurut Suwardi, salah satu persoalan utama yang dihadapi peternak berasal dari tingginya harga bahan baku pakan, terutama jagung dan bungkil kedelai.

Saat ini, harga jagung pipil kering dengan kadar air 15% telah mencapai Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram. Padahal, jagung menjadi komponen terbesar dalam formulasi pakan ayam petelur dengan porsi hingga 50%.

Kenaikan harga jagung tersebut kemudian mendorong rata-rata harga pakan menjadi Rp8.155 per kilogram. Kondisi itu secara langsung meningkatkan Harga Pokok Produksi (HPP) telur yang kini mencapai Rp26.911 per kilogram.

Masalahnya, harga telur yang diterima peternak justru berada jauh di bawah biaya produksi. Harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram.

Peternak Rugi Rp5.000-Rp7.000 per Kilogram

Kesenjangan antara biaya produksi dan harga jual tersebut membuat peternak menanggung kerugian sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000 untuk setiap kilogram telur yang dihasilkan.

Tekanan tersebut membuat kondisi usaha peternakan ayam petelur semakin berat. Suwardi bahkan mengungkapkan kekhawatiran peternak tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga jika kondisi tersebut terus berlangsung.

"Kami sampai berpikir begini Pak, kalau tidak ada titik solusi, pulang tidak bisa kasih makan, mau keleweran di Jakarta kita tidak punya uang, apakah mungkin kami para peternak harus menjadi gembel di Jakarta?" keluhnya.

Pinsar Minta Pasokan 223.000 Ton Jagung

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pinsar mendesak pemerintah segera turun tangan memastikan ketersediaan bahan baku pakan. Peternak membutuhkan pasokan jagung sebanyak 223.000 ton dengan harga yang wajar untuk menjaga operasional pada periode Oktober 2026 hingga Februari 2027.

"Harapan dari kami sekali lagi, tolong sediakan jagung untuk kami dengan harga yang seimbang, sehingga kami bisa terus untuk melanjutkan usaha kami, peternak ayam untuk menghidupi keluarga kami," tegas Suwardi.

Selain meminta intervensi terhadap bahan baku, Pinsar juga mendorong pemerintah menyerap kelebihan pasokan telur untuk disalurkan melalui program Bantuan Pangan (Banpang).

Langkah tersebut dinilai mendesak agar peternak rakyat dapat bertahan dalam lima bulan ke depan. Suwardi juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata niaga impor bahan baku pakan ternak.

Peternak Soroti Program Danantara

Pinsar turut menyoroti rencana program pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Peternak menuntut agar hak budi daya ayam ras petelur 100% dikembalikan kepada peternak rakyat.

Selain itu, Pinsar mendorong program Danantara wajib membangun industri hilir, seperti pabrik tepung telur dan tepung daging. Pembangunan industri tersebut terutama didorong di daerah-daerah yang mengalami kelebihan produksi atau oversupply telur.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online