Stasiun Lempuyangan Mulai Ditata, Pintu Utara Disiapkan untuk Penumpang KRL
Stasiun Lempuyangan ditata bertahap hingga 2027. Mulai 2028, penumpang KRL akan dilayani melalui akses Utara.
Kepala OJK DIY, Eko Yunianto menyampaikan kata sambutan dalam Sosialisasi Edukasi Reksa Dana Syariah untuk media di Kantor OJK DIY, Kamis sore, (8/9/2026)./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, JOGJA—Jumlah investor reksa dana di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus bertambah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mencatat sebanyak 375.672 Single Investor Identification (SID) reksa dana pada Agustus 2026, meningkat 40,16% secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kepala OJK DIY Eko Yunianto mengatakan jumlah tersebut bertambah 107.632 SID dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat sebanyak 268.040 SID. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya minat masyarakat terhadap reksa dana sebagai alternatif instrumen investasi.
"Ini menjadi salah satu tanda bahwa optimisme reksa dana mulai dipertimbangkan sebagai alternatif instrumen investasi, khususnya bagi masyarakat di DIY ini," ujarnya dalam Sosialisasi Edukasi Reksa Dana Syariah untuk media di Kantor OJK DIY, Kamis sore, (8/9/2026).
Aset Reksa Dana Capai Rp3,8 Triliun
Di tengah pertumbuhan jumlah investor, total aset reksa dana di DIY juga mencapai sekitar Rp3,8 triliun. Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK M. Maulana mengatakan nilai tersebut setara sekitar 1,7% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY 2026.
Menurut Maulana, capaian tersebut masih menyisakan ruang yang sangat besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan investasi. OJK kemudian memperkenalkan Program Pintar Reksa Dana sebagai salah satu inisiatif strategis untuk menghubungkan potensi tersebut dengan partisipasi masyarakat yang lebih luas.
"Program nasional ini sudah launching pada tanggal 27 April 2026 dan diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap produk reksa dana melalui berbagai medium, secara offline maupun online sekaligus membangun kebiasaan investasi yang sehat dan berkelanjutan," jelasnya.
OJK Ingatkan Masyarakat Terapkan 2L
Pertumbuhan jumlah investor juga diikuti dengan dorongan agar masyarakat semakin memahami produk investasi sebelum menempatkan dana. Eko mengingatkan masyarakat untuk memastikan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebelum memilih investasi.
Menurutnya, edukasi dan literasi keuangan diperlukan agar masyarakat semakin memahami produk dan layanan jasa keuangan yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Masyarakat juga diminta tidak mudah tergiur penawaran investasi ilegal atau bodong.
Eko mengatakan saat ini masih banyak masyarakat yang terjerat penawaran investasi yang berujung pada kerugian.
"Terjebak dengan adanya penawaran-penawaran investasi yang ujungnya adalah investasi ilegal dan tentunya ini sangat merugikan masyarakat kita semuanya," tuturnya.
Edukasi Reksa Dana Syariah Menyasar Berbagai Kalangan
Sosialisasi Edukasi Reksa Dana Syariah tersebut merupakan hasil kerja sama OJK bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI). Kegiatan itu menjadi bagian dari Sosedu APRDI 2026: Pintar Investasi di Reksa Dana Syariah.
Setelah menjangkau lima kota besar di Indonesia pada semester I 2026, rangkaian kegiatan semester II 2026 akan berlangsung di lima kota lainnya, yaitu Yogyakarta, Cirebon, Kendari, Palembang, dan Balikpapan. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut kemudian akan ditutup di Jakarta.
Ketua Panitia Sosedu APRDI 2026 Gresia Kusyanto mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan APRDI dan OJK untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus memperluas akses edukasi mengenai reksa dana di berbagai daerah.
Menurutnya pada semester I 2026, Sosedu APRDI telah diselenggarakan di Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Bandung dan Palembang, dengan fokus pada pengenalan reksa dana secara umum serta Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana," ujarnya.
Rangkaian edukasi tersebut menyasar sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga wartawan dan media. Pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu kelompok sasaran karena edukasi investasi dan reksa dana dinilai perlu diperkenalkan sejak dini.
"Rangkaian kegiatan edukasi ini ingin menjangkau pelajar, mahasiswa, komunitas, serta wartawan dan media. Pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu kelompok sasaran untuk memperkenalkan pemahaman mengenai investasi dan reksadana sejak dini," paparnya.
Dengan pertumbuhan investor yang mencapai 40,16% secara tahunan, OJK dan APRDI terus mendorong perluasan akses sekaligus pemahaman masyarakat terhadap reksa dana. Edukasi mengenai investasi yang legal dan logis menjadi bagian penting agar pertumbuhan jumlah investor berjalan seiring dengan kebiasaan investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Stasiun Lempuyangan ditata bertahap hingga 2027. Mulai 2028, penumpang KRL akan dilayani melalui akses Utara.
Indonesia membangun ekosistem plasma nasional untuk memenuhi kebutuhan obat derivat plasma dan mengurangi ketergantungan impor.
Tiga tahun agresi Israel membuat Gaza kehilangan rumah, pekerjaan, layanan publik, dan akses kebutuhan dasar. Lebih dari 74.245 warga Palestina tewas.
Kemenkop membuka peluang koperasi menjadi mitra pembayaran gaji dan pensiun ASN/PNS. Skema ini ditegaskan bukan untuk menggantikan perbankan.
Sebanyak 1.654 anak usia 0-6 tahun di Karangmojo belum mengenal bangku sekolah. Deklarasi Bocah Pinter digelar untuk mendorong PAUD.
Jumlah investor reksa dana di DIY mencapai 375.672 SID pada Agustus 2026, tumbuh 40,16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.