Inflasi Dekati 3,5%, Lonjakan Harga Pangan dan Daging Ayam Jadi Perhatian

Rika Anggraeni
Rika Anggraeni Selasa, 13 Oktober 2026 08:47 WIB
Inflasi Dekati 3,5%, Lonjakan Harga Pangan dan Daging Ayam Jadi Perhatian

Telur Ayam - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Inflasi Indonesia mencapai 3,28% secara tahunan pada September 2026, mendekati batas atas target pemerintah sebesar 3,5%. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta pemerintah daerah (pemda) memperketat pengawasan harga pangan, terutama beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras yang berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Tito menegaskan pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama menjaga inflasi agar tidak melampaui sasaran. Menurut dia, kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi beban lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya kelompok terbawah yang mengandalkan pendapatan harian.

“Kita harus berusaha keras, pusat dan daerah, agar jangan sampai di atas 3,5. Kalau di atas 3,5, harga-harga naik, itu sangat terasa untuk desil satu, desil dua, terutama,” kata Tito dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah tahun 2026 yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (12/10/2026).

Dia mengingatkan, perubahan harga komoditas yang terlihat kecil sekalipun dapat memengaruhi kemampuan masyarakat miskin memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Masyarakat yang termiskin 20%, hidupnya harian. Kenaikan komoditas sekian ribu rupiah saja itu sudah sangat berpengaruh bagi mereka. Kalau kelas menengah mungkin enggak belum terasa,” ujarnya.

Inflasi September 2026 Naik, Pangan Jadi Perhatian

Berdasarkan data yang disampaikan Tito, inflasi tahunan Indonesia meningkat dari 3,19% pada Agustus 2026 menjadi 3,28% pada September 2026. Pada periode yang sama, inflasi bulanan juga naik dari 0,21% menjadi 0,30%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan kenaikan sebesar 0,88%. Sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan tersebut meliputi cabai, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.

Dari berbagai komoditas tersebut, Tito meminta pemda memberikan perhatian khusus kepada harga beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Ketiganya merupakan bahan pangan penting yang dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau cabai kita agak nggak begitu khawatir karena bukan komoditas utama. Tetapi kalau sudah daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras, itu kita perlu waspadai betul,” ujarnya.

Penekanan terhadap komoditas pangan utama tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah pada dampak inflasi terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Pengendalian harga dinilai penting agar kenaikan biaya kebutuhan pokok tidak semakin menekan daya beli mereka.

Sulawesi Utara Catat Inflasi Tertinggi 7,59%

Selain mengawasi komoditas pangan, Tito meminta pemda mencermati perbedaan tekanan inflasi di setiap wilayah. Dia menyebut Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi sebesar 7,59%.

Sejumlah daerah lain yang turut menjadi perhatian pemerintah meliputi Maluku Utara, Gorontalo, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Barat Daya.

Perbedaan kondisi inflasi antardaerah tersebut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian harga. Karena itu, pengawasan perlu memperhatikan perkembangan harga komoditas dan tekanan inflasi di masing-masing wilayah.

Biaya Transportasi dan Harga Emas Ikut Memengaruhi Inflasi

Tito juga menyoroti sejumlah kelompok pengeluaran yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan. Kelompok transportasi menjadi salah satu perhatian karena dipengaruhi kenaikan biaya angkutan udara akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 4,37%. Adapun kelompok perawatan pribadi mengalami inflasi sebesar 7,77%, yang menurut Tito berkaitan dengan pembelian emas.

Meski terdapat tekanan inflasi dari sejumlah kelompok pengeluaran, Tito menegaskan bahan pangan harus tetap menjadi prioritas pengendalian. Alasannya, komoditas tersebut berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

“Tetapi sektor yang paling kritikal bagi kita yang harus kita jaga betul adalah makanan minuman, karena berhubungan langsung dengan rakyat yang kelas bawah, masalah perut,” tandasnya.

Melalui rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Kemendagri meminta pemerintah pusat dan daerah menjaga perkembangan harga agar inflasi tidak melampaui target 3,5%. Pengawasan terhadap beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras menjadi salah satu perhatian utama karena dampak perubahan harganya dirasakan langsung oleh masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online