GIFTS 2026 UGM Hasilkan 51 Kerja Sama, 79 Startup Temui Investor

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 22 Oktober 2026 21:47 WIB
GIFTS 2026 UGM Hasilkan 51 Kerja Sama, 79 Startup Temui Investor

-

Harianjogja.com, JOGJA— Sebanyak 51 dokumen kerja sama dihasilkan dalam penyelenggaraan Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM). Forum yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026 itu juga membuka peluang pengembangan bisnis bagi 79 startup terkurasi untuk berinteraksi langsung dengan calon investor.

GIFTS 2026 mempertemukan perguruan tinggi, industri, pemerintah, investor, dan inovator. Kegiatan ini diarahkan untuk mempercepat hilirisasi hasil riset sekaligus mengembangkan bisnis berbasis inovasi.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, mengatakan sinergi berbagai pihak diperlukan untuk membangun ekosistem inovasi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

“Kolaborasi kita tidak bekerja sendiri, tapi kita berkolaborasi untuk membangun ekosistem, memperluas jejaring yang kuat dengan melibatkan pelaku usaha, praktisi bisnis, para inovator, para inventor, dan juga berbagai asosiasi yang ada di Yogyakarta,” ujarnya dalam penutupan GIFTS 2026, Kamis (22/10/2026).

Sebanyak 79 Startup Bertemu 30 Calon Investor

Peluang pengembangan usaha menjadi salah satu agenda GIFTS 2026 melalui program Meet The Investor. Danang menyebut sebanyak 219 startup mendaftar dalam program tersebut, dengan 79 startup terkurasi memperoleh kesempatan berinteraksi langsung dengan 30 calon investor.

Para calon investor terdiri dari investor individu atau angel investor serta perusahaan modal ventura. Selain itu, agenda speed dating bersama Asian Development Bank (ADB) melibatkan 10 startup untuk menjajaki peluang pendanaan dan pengembangan bisnis.

UGM juga mencatat penandatanganan 51 dokumen kerja sama yang mencakup nota kesepahaman, letter of intent, dan perjanjian kerja sama. Dokumen-dokumen tersebut akan ditindaklanjuti bersama para inovator, investor, serta mitra industri.

Danang berharap hasil inovasi perguruan tinggi yang telah siap diproduksi secara massal mendapat dukungan lebih luas, termasuk dari pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN). Dukungan tersebut dibutuhkan agar produk inovasi dapat menjangkau pasar yang lebih besar.

“Kami tidak hanya mengharapkan ada off-taker atau investor, tetapi hasil inovasi yang sudah masuk dalam pipeline produksi massal juga perlu diperluas pasarnya,” ujarnya.

Puluhan Stan Tampilkan Produk Inovasi

Selain mempertemukan startup dan investor, GIFTS 2026 menghadirkan sekitar 50 stan dalam Pasar Inovasi. Sebanyak 30 stan berasal dari sektor industri, sedangkan 20 stan lainnya menampilkan produk inovasi.

Produk yang dipamerkan mencakup bidang pertanian, kesehatan, rekayasa dan teknologi, serta industri konstruksi. Kegiatan ini turut melibatkan sejumlah perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), yakni Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Rangkaian acara juga mencakup sekitar 70 agenda paralel dan enam diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD). Pembahasan dalam forum tersebut meliputi industri benih, pengelolaan sampah berbasis komunitas, keberlanjutan, ketersediaan air bersih, ekosistem bakau, serta teknologi kebencanaan.

Beragam agenda itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan industri dan masyarakat dengan pengembangan riset serta teknologi dari perguruan tinggi.

UGM Ingin Perkuat Jogja sebagai Pusat Inovasi

GIFTS 2026 mengangkat tema Cultivation: Culture, Innovation, Business Acceleration. Menurut Danang, pengembangan inovasi perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat, bukan hanya keunggulan teknis suatu teknologi.

“Tidak semua teknologi tinggi yang sophisticated bisa diterapkan langsung di masyarakat,” katanya.

Ia menilai kesesuaian teknologi dengan nilai, norma, kearifan lokal, dan kebutuhan masyarakat menjadi faktor penting agar inovasi dapat diterapkan secara efektif. Karena itu, penguatan jejaring antara akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk memperluas pemanfaatan hasil riset.

UGM juga ingin memperkuat posisi Jogja sebagai pusat inovasi dan kreativitas. Perusahaan serta inovator lokal dinilai perlu mendapat ruang lebih luas agar produk dan hasil riset tidak hanya dikenal di lingkungan akademik, tetapi juga mampu menembus pasar.

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem tersebut, UGM merintis virtual office di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Fasilitas ini direncanakan diluncurkan pada 2027 dan diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan pengusaha, inventor, investor, serta mitra pengembangan teknologi.

Melalui GIFTS 2026, UGM berharap kolaborasi antara dunia riset dan industri dapat menghasilkan dampak ekonomi yang berkualitas dan inklusif. Upaya tersebut juga diharapkan memperluas manfaat inovasi agar dapat dirasakan masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online