Kemenhub Desak KAI Percepat Pengadaan 35 KRL Baru, Target 2027

Newswire
Newswire Selasa, 27 Oktober 2026 20:37 WIB
Kemenhub Desak KAI Percepat Pengadaan 35 KRL Baru, Target 2027

Penampakan KRL seri CL1 225 atau iE305 buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA/Dok. PT KAI Commuter atau KCI\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendesak PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mempercepat pengadaan 35 rangkaian kereta rel listrik (KRL) baru agar dapat beroperasi sesuai target pada 2027. Desakan ini muncul di tengah peningkatan jumlah penumpang dan kebutuhan peremajaan armada KRL Jabodetabek.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengatakan KAI telah merencanakan pengadaan 35 KRL baru dan dua rangkaian melalui skema retrofit sejak 2023. Namun, menjelang akhir 2026, baru 18 rangkaian kereta atau trainset yang beroperasi di lintas Jabodetabek.

Sebanyak 11 trainset asal China telah beroperasi seluruhnya. Sementara itu, produksi PT Industri Kereta Api (INKA) baru mencakup tujuh dari 16 rangkaian yang dipesan. Dengan demikian, masih ada delapan trainset baru yang belum dipastikan akan dipenuhi oleh INKA atau melalui impor.

“Tentunya kami mendorong agar PT KAI segera mengadakan karena kebutuhan mendesak yang kita ketahui semua di lapangan bahwa memang kami membutuhkan delapan trainset ini segera melayani masyarakat,” ujarnya kepada wartawan, dikutip pada Selasa (27/10/2026).

Kemenhub Minta Kejelasan Dua Rangkaian Retrofit

Selain delapan rangkaian baru, Kemenhub meminta KAI memperjelas rencana pengadaan dua rangkaian yang sebelumnya direncanakan melalui skema retrofit. Pemerintah ingin mengetahui apakah pengerjaannya tetap melibatkan INKA atau dialihkan menjadi pengadaan kereta baru.

“Kami juga perlu kejelasan dari PT KAI, dua retrofit ini apakah masih akan dengan INKA dan dalam bentuk retrofit atau sekarang ini ada rencana untuk mengadakan langsung kereta baru. Jadi total itu 35 plus 2, jadi 37, dua belum ada kejelasan,” tuturnya.

Allan berharap seluruh rangkaian yang direncanakan dapat beroperasi pada 2027 sesuai komitmen KAI. Kebutuhan peremajaan armada menjadi perhatian karena terdapat sekitar 100 trainset yang berusia lebih dari 30 tahun dan perlu dipensiunkan.

Dari sisi pendanaan, Kemenhub menyatakan anggaran pengadaan kereta telah tersedia melalui penyertaan modal negara (PMN) yang bersumber dari APBN.

KAI telah menerima PMN senilai Rp2 triliun pada 2024 dan Rp1,8 triliun pada 2025. Sementara itu, PMN senilai Rp1,5 triliun direncanakan cair pada 2026 untuk pengadaan sarana.

Sebelumnya, KAI mengungkapkan kebutuhan anggaran untuk memenuhi pengadaan 35 rangkaian baru dan dua retrofit mencapai Rp9,18 triliun. Adapun kekurangan pendanaan direncanakan berasal dari kas internal PT KAI Commuter dan pinjaman bank.

Penumpang KRL Terus Bertambah

Percepatan pengadaan armada juga berkaitan dengan pertumbuhan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Jumlah penumpang diproyeksikan menembus 600 juta orang pada 2036, atau dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.

Kondisi kepadatan layanan sudah terlihat pada sejumlah lintas. Jarak antarkereta atau headway di lintas Bogor mencapai lima menit, yang menunjukkan tingginya intensitas perjalanan di jalur tersebut.

Sementara itu, lintas Tanah Abang–Rangkasbitung atau Green Line memiliki headway sekitar 12 menit. Rangkaian yang digunakan di lintas ini masih menggunakan formasi 10 kereta atau SF10. Tingkat okupansi lintasannya bahkan telah mencapai 161%.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari tantangan pelayanan KRL ketika permintaan perjalanan terus meningkat, sementara peremajaan armada dan kapasitas layanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan penumpang.

Proyeksi Penumpang KRL Direvisi Naik

KAI sebelumnya memproyeksikan jumlah pengguna KRL Jabodetabek meningkat rata-rata 4% setiap tahun selama periode 2024–2030, hingga mencapai 437 juta penumpang pada 2030.

Pada 2025, realisasi jumlah penumpang tercatat sekitar 357 juta orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal sebanyak 339 juta penumpang.

Untuk 2026, KAI merevisi proyeksi jumlah penumpang dari 369 juta menjadi 374 juta orang hingga akhir tahun. Revisi tersebut sejalan dengan realisasi penumpang yang telah mencapai 271 juta orang sampai September 2026.

Peningkatan jumlah pengguna dan kebutuhan mengganti armada berusia tua membuat kepastian pengadaan kereta menjadi salah satu hal yang perlu dituntaskan. Kemenhub berharap rangkaian yang direncanakan dapat beroperasi sesuai target pada 2027 untuk mendukung pelayanan KRL Jabodetabek.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online