Harga Cabai Rawit Tembus Rp88.642/kg, Pemerintah Genjot Produksi

Newswire
Newswire Senin, 26 Oktober 2026 22:57 WIB
Harga Cabai Rawit Tembus Rp88.642/kg, Pemerintah Genjot Produksi

Foto ilustrasi penjual cabai keriting. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga cabai rawit dan cabai merah melonjak pada Oktober 2026 dan menjadi salah satu pendorong inflasi. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendorong perluasan penanaman cabai di berbagai daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus membantu mengendalikan kenaikan harga.

Inflasi bulanan pada September 2026 tercatat sebesar 0,30% dibandingkan dengan Agustus 2026. Tito mengatakan kelompok makanan dan minuman menjadi penyumbang utama inflasi, terutama akibat kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah yang dipengaruhi penurunan produksi di sejumlah daerah karena kekeringan.

“Sektor makanan-minuman ini kita melihat yang utama adalah cabai, jadi bukan makanan pokok. Cabai rawit dan cabai merah, terutama dikarenakan kekeringan ya, sehingga beberapa daerah produksi cabai rawitnya menurun,” kata Tito dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).

Menurut Tito, peningkatan produksi melalui program penanaman cabai di berbagai wilayah dapat membantu menjaga kecukupan pasokan di pasar. Program tersebut dapat melibatkan masyarakat di desa, kelurahan, hingga perkotaan.

“Sebetulnya ini bisa diatasi juga dengan menggenjotkan program tanam cabai yang banyak dilakukan di berbagai daerah, di desa-desa, di kelurahan-kelurahan, di kota. Kalau bisa mencukupi cabainya, sebenarnya cukup. Tapi ini juga bisa dari sisi lain menyenangkan para petani, petani cabai, ini waktunya mereka untuk bergembira, untung gitu ya. Untungnya bukan makanan pokok ini,” tuturnya.

Harga Cabai Rawit Naik 12,49%

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga cabai rawit pada pekan keempat Oktober 2026 mencapai Rp88.642 per kilogram. Angka tersebut naik 12,49% dibandingkan dengan September 2026 dan berada jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan harga cabai rawit terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Pada pekan keempat Oktober 2026, sebanyak 269 kabupaten/kota atau 74,72% wilayah yang dipantau mengalami kenaikan harga.

“Kalau kita cermati bersama, posisi cabai rawit pada minggu keempat Oktober 2026 juga mengalami peningkatan harga yang cukup tinggi, yaitu naik 12,49% dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau September,” kata Ateng dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri RI.

Dibandingkan dengan Desember 2025, harga cabai rawit pada pekan keempat Oktober 2026 telah meningkat 29,71%. Harga di sejumlah daerah juga tercatat melampaui HAP yang ditetapkan pemerintah.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada cabai merah. BPS mencatat harga komoditas tersebut meningkat 23,47% dibandingkan dengan September 2026 dan naik 22,43% jika dibandingkan dengan Desember 2025.

“Pada kondisi Desember ataupun November-nya kita bandingkan pada minggu keempat bulan Oktober terhadap Desember 2025 untuk cabai merah mengalami peningkatan harga yang cukup tinggi, yaitu 22,43%. Jika hal tersebut tidak dijaga maka berpeluang besar untuk inflasi tahunannya akan mendorong,” ujarnya.

Pada pekan keempat Oktober 2026, harga cabai merah mencapai Rp70.849 per kilogram, melampaui HAP sebesar Rp55.000 per kilogram. Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi di 327 kabupaten/kota atau 90,83% wilayah yang dipantau.

Produksi Cabai Nasional Dinilai Masih Memadai

Di tengah lonjakan harga, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan produksi cabai nasional masih cukup untuk memenuhi kebutuhan apabila distribusi antardaerah berjalan lancar.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto memperkirakan produksi cabai rawit pada Oktober 2026 mencapai 134.221 ton. Volume tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata konsumsi yang berkisar 70.000 ton.

“Kalau dibandingkan dengan rata-rata konsumsi yang berkisar 70 ribuan itu sebetulnya ketersediaan cabai kita masih cukup memadai, seandainya proses perdagangan antarwilayahnya itu bisa berjalan dengan baik,” kata Sudi.

Sementara itu, produksi cabai besar pada Oktober diperkirakan mencapai 117.000 ton. Sudi mengatakan pasokan dari sentra produksi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan wilayah yang mengalami kekurangan.

Untuk memperlancar pasokan, Kementan mendorong kerja sama antardaerah agar cabai dari wilayah surplus segera dikirim ke daerah yang mengalami defisit. Pemerintah juga mengandalkan kelompok pelaku usaha atau champion cabai untuk membantu penyaluran komoditas tersebut.

Sudi menyebut sejumlah daerah sentra produksi, termasuk Lumajang, memiliki potensi pasokan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengendalikan harga di wilayah lain.

Gerakan Pasar Murah Cabai di Jakarta

Selain memperkuat distribusi antardaerah, Kementan melakukan intervensi melalui gerakan pasar murah cabai di Jakarta. Sudi mengatakan kegiatan itu berlangsung selama satu pekan dan menjangkau 12 kelurahan, dengan penyaluran sekitar 200 kilogram cabai per hari.

Dalam program tersebut, cabai dijual dengan harga Rp25.000 per setengah kilogram atau Rp50.000 per kilogram. Harga itu lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar yang saat itu berkisar Rp80.000–Rp85.000 per kilogram.

“Ini pun mendapat antusias sama masyarakat yang cukup besar dan paling tidak mereka mendapatkan harga cabai yang di bawah harga pasar,” ujarnya.

Kementan juga mendorong champion cabai di sentra produksi menggelar aksi penjualan dengan harga terjangkau. Langkah ini ditujukan untuk menjaga harga di tingkat produsen agar tidak terus meningkat, sekaligus memastikan pasokan tetap dapat dikirim ke daerah yang membutuhkan dengan harga lebih terkendali.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online