Pelemahan Rupiah Bisa Berdampak Inflasi

Holy Kartika N.S & Rheinasayu Cyntara
Holy Kartika N.S & Rheinasayu Cyntara Kamis, 26 April 2018 14:30 WIB
Pelemahan Rupiah Bisa Berdampak Inflasi

Ilustrasi replika uang di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (4/4).Bisnis Indonesia-Abdullah Azzam

Harianjogja.com, JOGJA—Dolar kembali menguat terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah. Upaya mengintervensi pasar menjadi langkah yang dilakukan Bank Indonesia, untuk dapat menjaga stabilitas rupiah. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY Budi Hanoto mengungkapkan kondisi tersebut juga akan berdampak pada berbagai komoditas. "Jelas dengan adanya penguatan mata uang Amerika ini akan berpengaruh pada komoditas harian," ujar Budi kepada Harian Jogja, Rabu (25/4/2018). 

Budi memaparkan pengaruh pelemahan nilai tukar akan memberikan dampak pada tekanan inflasi. Terutama untuk penyediaan barang konsumsi yang dari impor. 

Lebih lanjut Budi mengatakan imbas dari menguatnya dolar akan memengaruhi secara jangka panjang pada beberapa barang seperti bahan bakar minyak dan mengerek naik harga sejumlah komoditas.

"Asumsi kurs dalam APBN pun tidak selaras dan perlu adjustment dari sisi administered prices dan memiliki potensi dalam menekan laju inflasi," jelas Budi. 

Untuk dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia telah melakukan sejumlah langkah. Di antaranya dengan melakukan intrevensi pasar vasar maupun pasar surat berharga negara (SBN). 

Budi menjelaskan tidak mengarahkan nilai tukar pada level tertentu. Melainkan juga berupaya menjaga volalitas dengan mengintervensi secara terukur. 

"Bank Indonesia juga akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah. Kami tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai dengan fundamentalnya," kata Budi.

 Harga Tiket Pesawat

Ketua ASITA DIY Udi Sudiyanto mengatakan hal tersebut belum berpengaruh banyak pada kedatangan tamu asing ke DIY. Namun pihaknya tetap khawatir jika melemahnya nilai tukar rupiah ini akan mempengaruhi komponen harga tiket pesawat. Jika tiket pesawat mahal, maka bukan tidak mungkin para tamu asing tersebut akan bepikir ulang untuk melakukan perjalanan. 

Namun Udi menuturkan hampir semua komponen biaya di Jogja sudah menggunakan rupiah, hanya beberapa saja yang masih berpatokan pada dolar. Tentu apabila dolar naik, maka harga komponen tersebut menjadi mahal. Walhasil pihaknya harus membayar lebih dari yang sudah diperhitungkan sebelumnya. "Kami sangat berharap bahwa nilai tukar rupiah akan stabil agar kami mudah untuk menghitung biaya sebuah perjalanan. Akan tetapi kalau naik turun, tentu kami tidak bisa berspekulasi," katanya. 

Lebih lanjut Udi mengatakan angka aman saat ini ada di kisaran Rp13.000 per dolar menurut rasio perhitungannya. Udi menambahkan yang menjadi masalah pergerakan nilai dolar ini biasanya disertai naiknya nilai tukar uang asing lainnya. Hal ini menjadikan biro perjalanan yang paket wisata ke luar negeri termasuk umrah terpengaruh, biayanya bisa melonjak menjadi lebih mahal. "Meskipun sampai hari ini belum ada pembatalan ya," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online