Start-up Jogja Kekurangan Jago Coding, Tertarik Belajar?

Rheisnayu Cyntara
Rheisnayu Cyntara Sabtu, 08 September 2018 11:30 WIB
Start-up Jogja Kekurangan Jago Coding, Tertarik Belajar?

Ilustrasi Startup./JIBI

Harianjogja.com, JOGJA—Jogja menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan start-up yang cukup pesat. Jika sebelumnya terfokus di Jakarta atau Bandung saja, kini sudah banyak start-up yang dirintis di Jogja. Namun dalam perkembangannya, masih ada kendala yang dihadapi oleh para start-up ini seperti makin sulitnya mencari anak muda yang memiliki kemampuan coding.

General Manager PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Yogyakarta Firmansyah mengaku beberapa waktu belakangan para pelaku start-up mengeluhkan makin minim anak-anak muda yang jago coding. Jikalau ada, rata-rata mereka hanya bisa melakukan coding untuk perangkat Andorid. Padahal dalam merintis atau bahkan mengembangkan sebuah start-up, ada begitu banyak bahasa pemrograman yang harus diketahui. Tidak hanya terpatok pada satu jenis "bahasa".

Meskipun banyak prodi di universitas yang mengajarkan tentang coding ini, Firman menyebut apa yang diajarkan masih dasar dan textbook. Mahasiswa jarang diberikan materi coding yang beragam dan advance. "Belum cukup menyeluruh apa yang diajarkan di kampus. Makanya jika hanya belajar di kampus saja saat lulus belum bisa langsung masuk ke industri start-up ini," katanya kepada Harian Jogja, Jumat (7/9).

Maka menurut Firman untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup, anak muda perlu berlajar di luar kampus. Kebutuhan itulah yang berusaha diwadahi oleh Jogja Digital Valley (JDV) dan Digital Lounge milik PT Telkom. Jika JDV lebih ditujukan bagi pengembangan atau inkubator start-up yang sudah berdiri, Digital Lounge merupakan tempat para anak muda belajar coding untuk disiapkan menjadi para pelaku start-up ke depannya. Digital Lounge ini terbuka bagi masyarakat luas, Firman juga mendorong para murid SMP dan SMA sudah harus sering datang dan belajar jika punya keinginan untuk masuk di dunia digital.

"Belajar tidak harus di sekolah, secara formal. Iklim kerja kita sudah banyak berubah. Di perusahaan start-up kadang bukan lulusan mana yang penting tetapi bisa coding apa saja. Di Digital Lounge misalnya akan ada mentor yang membantu proses belajar coding anak-anak muda ini," tuturnya.

Firman mengatakan Digital Lounge ini telah ada di empat kota besar yang dianggap potensial. Yakni Jogja, Bandung, Jakarta dan Makassar. Selama kurang lebih lima tahun fasilitas ini berdiri, Firman mengaku sudah terlihat ada efek yang cukup signifikan pada iklim digital di Indonesia. Hal itu juga didukung dengan adanya kompetisi seperti Hackaton untuk mendorong semangat anak muda terjun ke industri digital.

Start Up Solusi Bisnis

Firman juga menambahkan start-up di Jogja mayoritas mempunyai produk solusi untuk bisnis. Seperti misalnya enterprise resource planning (ERP) yaitu versi lain SAP yang bisa membantu pengusaha menghitung produktivitas mesin atau bahkan karyawannya. Sehingga gaji yang diberikan pun bisa disesuaikan dengan apa yang dicapai oleh karyawan. Selain itu ada pula aplikasi yang membantu kafe atau restoran untuk mencatat dan mencetak nota dan telah terintegrasi dengan sistem e-payment. Dengan aplikasi ini, pengusaha yang mempunyai beberapa cabang usaha bisa mengkalkulasi hasil harian dan memperkirakan belanja selanjutnya sehingga efektif dan efisien.

"Masih banyak yang lain seperti aplikasi yang menghubungkan peternak dengan pemodal. Namun rata-rata di Jogja orientasinya sebagai solusi bisnis, ini yang banyak berkembang," imbuhnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online