Rupiah Sempat Tembus Rp15.000-an Per Dolar AS

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Selasa, 02 Oktober 2018 15:30 WIB
Rupiah Sempat Tembus Rp15.000-an Per Dolar AS

Ilustrasi uang rupiah/Reuters

Harianjogja.com, JAKARTA–Pergerakan kurs rupiah pada Selasa (2/10) sempat menyentuh Rp15.009 per dolar AS dan kembali ke Rp14.997 per dolar AS, melemah 86,5 poin atau 0,58%. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak krisis keuangan di Asia pada Juli 1998 silam.

Rupiah juga kini mencatatkan pelemahan hingga lebih dari 9% di hadapan dolar AS sepanjang 2018 berjalan. Sementara itu, indeks dolar AS masih mengalami penguatan tipis 0,02% di posisi 95,31. Adapun, defisit transaksi Indonesia diperkirakan melebar menjadi 2,6%.

Ahli strategi pasar IG Asia Pte di Singapura Jingyi Pan mengatakan pelemahan rupiah merupakan akibat dari sentimen buruk di seputar emerging market dan kerentanan dari kondisi domestik di Indonesia sendiri.

Mata uang Garuda melorot meskipun Bank Indonesia (BI) sudah mengintervensi di pasar finansial dan meningkatkan suku bunga hingga lima kali sejak Mei untuk menurunkan aksi jual. Sentimen pada rupiah sebagai aset kian memburuk karena CAD Indonesia yang terus melebar membuat Indonesia dinilai lebih rentan pada kekacauan finansial global seperti yang sebelumnya sudah terjadi di Turki dan Argentina.

“Kelihatannya sentimen sangat berpengaruh besar pada penjualan saat ini, terpengaruh dari dua sisi, sentimen ke emerging market dan kekhawatiran akan kenaikan tensi perang dagang yang memang menguatkan rupiah,” paparnya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (2/10).

Bank Indonesia telah mengumumkan akan mengeluarkan Non-deliverable Forward (NDF), yang dianggap bisa menjadi alternatif bagi perusahaan yang ingin melakukan lindung nilai dolar AS dan membantu mengurangi volatilitas rupiah.

Aksi tersebut dinilai Jingyi cukup membantu dengan berjalan bersama pemerintah untuk meningkatkan ekspor dan menahan impor.

Analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengungkapkan pelemahan rupiah saat ini masih menjadi akibat dari sentimen domestik yang membuat dolar AS menguat tajam. Selain perang dagang, AS yang sudah kembali melakukan kesepakatan dagang dengan Kanada dan Meksiko membuat dolar AS kembali bergerak positif.

“Kemarin meningkatkan suku bunga itu lebih untuk mengimbangi kenaikan suku bunga dari AS, bukan sebagai intervensi. Pemerintah mungkin bisa mencoba mengendalikan CAD untuk membantu menopang rupiah,” ujarnya saat dihubungi Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) lewat telepon, Selasa (2/10).

Untuk upaya dari domestik sendiri menurut Putu sudah cukup baik, namun memang tekanan dari eksternal terlalu kuat sehingga rupiah kesulitan menguat. Dari segi tahun politik sendiri yang cukup damai juga sebenarnya sudah menjadi senitimen positif bagi rupiah.

“Sentimen negatif lainnya juga mungkin bencana alam yang sedang terjadi saat ini, menyebabkan investor asing menjauh dari perdagangan rupiah dulu,” lanjutnya.

Putu memproyeksikan rupiah dalam sepekan ke depan bila melemah bisa berada di kisaran Rp15.050 per dolar AS. Sementara itu, apabila dolar AS terkoreksi, mata uang Garuda bisa kembali menguat ke Rp14.860 per dolar AS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis Indonesia

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online