PENJUALAN BBM : Konsumsi Pertamax Naik 400%, Premium Turun 15%

PENJUALAN BBM : Konsumsi Pertamax Naik 400%, Premium Turun 15%Pascapemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Januari 2015, Deviasi harga BBM non subsidi (Pertamax) dengan BBM bersubsidi (Premium) semakin tipis. Konsumsi Pertamax di DIY pun mengalami kenaikan hingga 400% sementara Premium turun sekitar 15%. Tampak sejumlah konsumen mengisi BBM Pertamax di SPBU Lempuyangan, Senin (5/1/2015) (JIBI/Harian Jogja - Abdul Hamied Razak)
06 Januari 2015 22:40 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Penjualan BBM untuk jenis pertamax naik signifikan. Setidaknya, kenaikan mencapai 400%, sedangkan premium justru menurun 15%.

Harianjogja.com, JOGJA– Deviasi harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, Pertamax dengan BBM bersubsidi Premium, semakin tipis. Dampaknya, konsumsi Pertamax di DIY naik 400% sementara Premium turun sekitar 15%.

Marketing Branch Manager Pertamina DIY dan Surakarta Freddy Anwar Konsumsi mengatakan, konsumsi Pertamax di DIY naik tajam setelah pemerintah menurunkan harga BBM non-subsidi tersebut. Alasannya, selain kesadaran masyarakat untuk menggunakan Pertamax meningkat, hal itu disebabkan karena selisih harga antara Pertamax dan Premium tidak terlampau jauh.

"Deviasi harga keduanya saat ini bahkan hanya Rp1.200 per liter," ujar Freddy usai menghadiri Program Undian Pertamax Series di SPBU Lempuyangan, Senin (5/1/2015).

Menurut dia, harga Pertamax yang terus turun sejak 1 November lalu berdampak pada meningkatnya konsumsi Pertamax. Freddy mencatat, hingga saat ini konsumsi Pertamax meningkat hingga empat kali lipat atau 400% sejak penyesuaian harga dilakukan.

"Bila sebelum konsumsi Pertamax yang dikeluarkan oleh Depot Pertamina Rewulu sebesar 40 kilo liter (KL), saat ini mencapai 160 KL per hari. Kalau kondisinya seperti ini, kami memprediksi peningkatan konsumsi Pertamax bisa mencapai enam kali lipat. Bisa menyentuh 200 KL perhari karena harga berselisih Rp1.200 saja,” jelasnya.

Penurunan harga Pertamax, jelas Freddy tidak akan merugikan Pertamina. Sebab, Pertamax merupakan produk yang diproduksi Pertamina tanpa subsidi dari pemerintah. Artinya, Pertamina bisa menghemat subsidi dari pemerintah. Dia pun menjamin, melonjaknya konsumsi BBM non-subsidi tidak akan mengakibatkan kelangkaan Pertamax di SPBU. Pertamina sendiri telah menghimbau kepada SPBU untuk selalu menyediakan Petamax.

Depot Pertamina Rewulu, lanjut Freddy, mencatatkan pengeluaran tertinggi Pertamax dalam sehari, mencapai 448 KL saat liburan akhir tahun, Sabtu (3/1/2015).

"Bila sampai ada SPBU mengalami kekosongan stok beberapa hari, kami akan cari tahu masalahnya. Bisa jadi hal tersebut didorong oleh kurangnya modal dari pengusaha SPBU. Tapi kalau ada pelanggaran, pasti ada sanksinya,” terangnya.

Disinggung soal konsumsi Premium, Freddy mengakui, ada penurunan konsumsi sekitar 15%. Freddy menjelaskan, sebelum kenaikan harga konsumsi premium di DIY mencapai 1.500 KL.

"Saat ini tercatat antara 1.350 KL sampai 1.400 KL perhari. Ada penurunan sekitar 100 KL hingga 150 KL perhari,” kata Freddy.
GRAFIK

Penurunan Harga BBM Non-Subsidi
Tanggal 1 November 2014
Pertamax Rp11.100 per liter
Pertamax Plus Rp12.150 per liter
Pertamina Dex Rp12.500 per liter

Tanggal 15 November 2014
Pertamax Rp10.800 per liter
Pertamax Plus Rp11.850 per liter
Pertamina Dex Rp12.200 per liter

Tanggal 1 Desember 2014
Pertamax Rp10.600 per liter
Pertamax Plus Rp11.550 per liter
Pertamina Dex Rp11.950 per liter

Tanggal 15 Desember 2014
Pertamax Rp10.300 per liter
Pertamax Plus Rp11.300 per liter
Pertamina Dex Rp11.650 per liter

Tanggal 1 Januari 2015
Pertamax Rp8.800 per liter
Pertamax Plus Rp9.650 per liter
Pertamina dex Rp10.950 per liter

Konsumsi Pertamax di DIY
November 2014 rata-rata 40 KL perhari
Desember 2014 rata-rata 80 KL perhari
Januari 2015 rata-rata 160 KL perhari