KURS RUPIAH : Drop, Ini yang Dirasakan Money Changer

KURS RUPIAH : Drop, Ini yang Dirasakan Money ChangerBundles of rupiah banknotes are prepared for clients in a money changer in Jakarta June 12, 2013. REUTERS - Enny Nuraheni
14 Maret 2015 19:40 WIB Arief Junianto Ekbis Share :

Kurs rupiah memang melemah tetapi Money Changer justru tak terpengaruh.

Harianjogja.com, JOGJA—Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ternyata tak berimbas pada perdagangan emas dan aktivitas pertukaran mata uang (money changer) di DIY.

Waluyo Dwi Santoso, Marketing PT Intravalas, mengakui depresiasi rupiah tak begitu berpengaruh pada aktivitas penukaran uang di tempatnya bekerja. Meski masih didominasi oleh arus pertukaran dolar AS, ia mengaku jumlahnya tak seperti yang diperkirakan.

“Semua masih normal. Berbeda seperti saat krisis moneter 1998-2000 lalu,” ujar dia, Jumat(13/3/2015).

Sejak awal 2015, aktivitas pertukaran rupiah dengan dolar AS tak lebih dari US$2.000. Sementara perputaran rupiah tak lebih dari Rp50 juta.

Perdagangan emas juga masih normal. Harga emas batangan lokal nonsertifikat masih bertahan di angka
Rp485.000 per gram. Harga emas batangan antam pun masih bertahan di angka Rp505.000 per gram.

Salah satu pedagang emas di Kota Jogja, Ratna Setyoningsih mengatakan fluktuasi harga emas tak begitu
mencolok. Kalaupun ada peningkatan harga, tak lebih dari Rp5.000. Hal serupa juga terjadi pada perhiasan emas 75%. Sudah beberapa bulan terakhir, harga perhiasan emas 75% tetap berkisar Rp390.000 sampai Rp425.000.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang mengakibatkan relatif stagnannya harga emas. Misal perekonomian AS yang cenderung membaik beberapa bulan terakhir, serta menurunnya harga minyak dunia.

“Saat perekonomian Amerika membaik, para investor lebih memilih untuk menginvestasikan dananya di sektor industri dan perbankan daripada harus beli emas,” ucap dia di tokonya di Jl. Laksda Adisucipto itu.

Satu-satunya dampak melemahnya rupiah adalah pada lesunya iklim penjualan emas. Ia mengakui sejak awal 2015 lalu, persentase antara pembelian dan penjualan emas cenderung timpang.

“Setiap bulan, sekitar 70 persen masyarakat menjual emasnya. Tapi mereka tidak menjual sepenuhnya, hanya mengurangi gramnya,” ujar dia.

Selain itu, stabilnya harga emas juga disebabkan pergerakan harga emas dunia (gold spot) yang tak terlalu
ekstrem. Hingga kini harga gold spot mencapai US$1.156 /Oz. Angka tersebut dinilainya masih normal, mengingat Februari lalu, harga gold spot tertinggi bisa mencapai US$1.280/Oz.

“Harga gold spot tertinggi bisa mencapai US$1.900/Oz saat 2012 lalu,” kata dia.