PERDAGANGAN DI DIY : Ekspor Meningkat, Impor Turun

PERDAGANGAN DI DIY : Ekspor Meningkat, Impor TurunPengrajin melakukan proses akhir pewarnaan mebel rotan di pusat penjualan rotan di Jakarta, Kamis (6/11). Pemerintah menargetkan nilai ekspor mebel kayu dan rotan olahan mencapai US 5 miliar dalam lima tahun mendatang. ANTARA FOTO - M Agung Rajasa
12 Mei 2015 12:20 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Perdagangan di DIY untuk ekspor meningkat sedangkan impor turun

Harianjogja.com, JOGJA-Nilai ekspor barang yang berasal dari DIY pada Maret 2013 menunjukkan peningkatan. Sebaliknya, impor barang DIY mengalami penurunan.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop) DIY Riadi Ida Bagus SS mengungkapkan, kondisi tersebut yang diharapkan. Menurutnya, nilai ekspor barang dari DIY harus didorong agar terus meningkat. Sebaliknya, nilai impor harus ditekan.

“Ada beberapa hal yang bisa memicu penurunan nilai impor,” ungkap dia, Senin (11/5/2015).

Ia menjelaskan, beberapa faktor tersebut antara lain kebutuhan bahan dasar produk impor berkurang atau sudah tercukupi dari dalam negeri, menguatnya dolar, belum diperlukannya bahan dasar impor, atau bahan dasar impor sudah dibeli sebelumnya dan masih ada sisa. Selain itu, ia menyebutkan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri semakin meningkat.

“Tidak semua barang asal luar negeri bisa diimpor. Harus memenuhi standar nasional Indonesia [SNI],” imbuh dia.

Kepala BPS DIY Bambang Kristianto mengungkapkan, nilai ekspor barang asal DIY yang dikirim melalui beberapa pelabuhan di Indonesia pada Maret 2015 sebesar US$29,03 juta. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 5,43% dibandingkan Februari 2015 US$27,5 juta. Jika dibandingkan tahun lalu (Maret 2014), nilai ekspor turun sebesar 1,49%. Maret 2014, nilai ekspor DIY sebesar US$29,47 juta.

“Tiga negara utama tujuan ekspor barang pada Maret 2015 adalah AS, Jerman, dan Jepang. Masing-masing 39,26%, 13,26%, dan 8,59%,” ungkap dia.

Sementara, nilai impor barang DIY pada Maret 2015 melalui pelabuhan udara Adi Sutjipto senilai US$55.384. Angka tersebut, menunjukkan penurunan sebesar 11,99% dari Februari 2015. Jika dibandingkan Maret 2014, nilai impor mengalami penurunan sebesar 50,91%.

“Sebagian besar impor DIY pada Maret 2015 berasal dari Korea Selatan senilai US$34.719 setara dengan 62,69% dari seluruh nilai impor yang tercatat,” ungkap dia.

Bambang menjelaskan, komoditas impor utama adalah komoditas kain tenun berlapis senilai US$31.824 atau sebesar 57,46% dari total impor. Menurutnya, BPS hanya mencatat impor barang dengan pengiriman masuk melalui Bandara Adi Sutjipto. Impor dari pelabuhan bongkar lainnya belum dapat ditelusuri karena berbagai hal, sehingga tidak dapat digunakan sebagai bahan analisi lebih lanjut.