Apartemen Belum Banyak Dilirik untuk Hunian

Apartemen Belum Banyak Dilirik untuk HunianIlustrasi apartemen - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
15 Desember 2018 09:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski pengembangan apartemen terus berlangsung di Jogja, sebenarnya hunian vertikal ini belum dilirik untuk dijadikan hunian terutama oleh masyarakat lokal setempat. Apartemen lebih ditujukan sebagai instrumen investasi dibandingkan dijadikan tempat tinggal tetap.

Ketua DPR REI DIY Rama Adyaksa Pradipta mengakui ada beberapa alasan yang menyebabkan apartemen hingga kini belum dilirik untuk dijadikan hunian. Pertama alasan kultur, masyarakat Jogja belum siap untuk bertransformasi dari tinggal di landed house ke vertical house. Secara budaya, masyarakat Jogja masih memilih tinggal di rumah dengan halaman yang luas dan punya interaksi dengan tetangga di sekitarnya. Mereka masih terikat dengan spirit kebersamaan dalam bermasyarakat di tinggal RT, RW hingga Desa. Hal yang tidak mungkin ada di apartemen.

Kedua, jarak antara rumah dengan tempat kerja yang masih relatif terjangkau. Rama menyebut dengan kondisi saat ini, untuk mencapai lokasi kerja dari rumah tinggal masyarakat hanya butuh waktu sekitar satu jam, belum mencapai lebih dari dua jam karena jauh ataupun macet. Hal itu membuat masyarakat memikirkan ulang untuk tinggal di apartemen yang biasanya ada di pusat kota, kampus, atau perkantoran.

"Banyak yang tinggal di Wonosari atau bahkan Klaten yang masih bisa mencapai tempat kerja dengan nglaju setiap hari. Namun mungkin jika tak terjangkau lagi dari segi jarak dan waktu, masyarakat akan mempertimbangkan untuk membeli apartemen di pusat-pusat kota," katanya kepada Harian Jogja, Kamis (13/12).

Namun demikian, Rama menyakini apartemen masih akan tetap tumbuh di Jogja. Meskipun pasarnya memang bukan menyasar masyarakat lokal. Jika diamati, apartemen yang makin banyak jumlahnya sekarang mayoritas didirikan di dekat kampus. Hal itu menurut Rama dikarenakan pangsa pasar apartemen terbesar di Jogja merupakan para mahasiswa yang mempunyai kemampuan keuangan yang lebih untuk tinggal di apartemen. Apartemen di Jogja lebih ditujukan untuk mengambil pasar mahasiswa berada yang selama ini tinggal di kamar indekos.

"Makanya jika dilihat, komposisi unit yang dipasarkan oleh pengembang apartemen ini mayoritas didominasi tipe studio. Tipe studio ini kan sebenarnya sama halnya dengan kamar indekos meski memiliki fasilitas yang lebih baik dibandingkan kamar kost biasa," ucapnya.

Sementara itu HOD Marketing Barsa City, Sunarsih mengakui peminat apartemen di Jogja mayoritas masih investor. Mereka membeli unit apartemen bukan untuk ditempati sendiri tetapi disewakan kembali. Pasalnya apartemen masih dianggap sebagai instrumen investasi yang menarik bagi para investor. Berbeda halnya dengan para end user yang membeli unit apartemen karena memang menjadi kebutuhan untuk ditinggali. "Maka mayoritas yang laku banyak yang tipe studio. Dengan pertimbangan jika disewakan sebagai investasi, harganya masih terjangkau oleh end user terutama para mahasiswa," katanya.