Cabai Rawit Mahal, Pemda Tak Akan Ambil Tindakan, Kok?

Cabai Rawit Mahal, Pemda Tak Akan Ambil Tindakan, Kok?Petani memanen cabai rawit di area penanaman cabai di Pondok Wonolelo II, Widodomartani, Ngemplak, Selasa (4/9 - 2018). Beberapa tanaman terlihat mengering karena dibiarkan oleh petani. Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
28 Desember 2018 06:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Harga cabai merah yang melejit hingga Rp45.000 per kilogram mulai dirasakan masyarakat Jogja sejak sebelum libur Natal lalu. Namun demikian pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Perdagangan DIY mengaku tak akan mengambil tindakan untuk menstabilkan kembali harga komoditas ini.

Kepala Dinas Perdagangan DIY, Tri Saktiyana mengaku sudah mengetahui kondisi naiknya harga cabai rawit merah di pasaran. Mulai dari Rp27.333 menjadi Rp40.333 per kilogram sebelum libur Natal dan naik lagi mencapai Rp45.000 per kilogram seusai Natal. Namun Tri menyebut tak akan mengambil tindakan seperti melakukan operasi pasar khusus untuk komoditas ini. Pasalnya cabai bukan termasuk komoditas strategis dan pokok. Komoditas cabai masih bisa disubtitusi dengan komoditas lainnya.

“Sebenarnya itu kan urusan mantap tidak mantap saja. Kalau enggak ada yang pedas rasanya kurang. Maka komoditas ini tidak masuk dalam kategori stretegis. Kalau kami [Dinas Perdagangan] melakukan operasi pasar untuk beras, telur, minyak atau komoditas strategis lainnya itu wajar tetapi kalau OP cabai, kan tidak ada,” katanya pada Kamis (27/12).

Guna menanggapi kenaikan harga cabai ini Tri mengaku akan menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Apalagi menurutnya kenaikan harga cabai ini juga dipengaruhi produksi yang berkurang akibat iklim dan cuaca yang kurang bersahabat dengan tanaman yang hanya memerlukan sedikit air ini. Selain itu, pasokan bahan pokok di pasaran yang banyak dikirim ke Jakarta, termasuk cabai juga turut melonjakkan harga komoditas ini. Namun demikian, Tri menyebut untuk urusan distribusi komoditas pihaknya tak bisa mengintervensi. “Banyak yang dibawa ke barat [Jakarta] tetapi nanti saat barat sudah cukup, pasokan akan ke sini lagi kok. Sudah terbaca polanya. Apalagi komoditas ini kan tidak tahan lama, jadi harus didistribusikan segera,” ucapnya.

Tri menambahkan naikknya harga cabai ini masih dalam taraf yang belum signifikan. Berkaca dengan pengalaman sebelumnya, harga cabai sebenarnya bisa melonjak hingga Rp200.000 per kilogram. Kala itu menurutnya pemerintah sudah mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan kembali harga cabai namun tak cukup berpengaruh. Hal itu menurutnya dikarenakan cabai tidak mempunyai Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga harganya sangat tergantung pada supply and demand di pasaran. “Tapi kami akan terus operasi pasar bahan pokok yang terkait dengan gizi masyarakat. Terutama telur dan daging ayam yang sekarang juga naik,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko menyebut kenaikan harga cabai rawit merah, salah satunya terjadi akibat berkurangnya tanaman tersebut di tingkat petani. Memasuki musim penghujan, tanaman hortikultura, seperti cabai, biasanya akan digantikan oleh tanaman padi. Sebab tanaman ini tak butuh banyak air, maka jika ditanam pada musim penghujan, cabai akan cepat rusak atau membusuk. Banyak lahan pertanian yang sebelumnya ditanami cabai, beralih ke tanaman padi yang cenderung lebih banyak membutuhkan banyak air, sehingga membuat produksi komoditas cabai berkurang.

Sementara itu di pasaran, harga komoditas daging ayam broiler kini mencapai sekitar Rp40.000 per kilogram. Kenaikan tersebut dipicu dari kenaikan harga mulai dari tingkat distributor. Di samping itu, tingginya permintaan telur ayam negeri membuat harga komoditas ini juga terus merangkak naik di kisaran Rp27.000 per kilogram.