Ahmad Raditya dan Anggita Wakili DIY Jadi Calon Paskibraka Nasional
Dua pelajar DIY resmi diberangkatkan mengikuti pelatihan Paskibraka Nasional di Jakarta sebelum bertugas pada HUT Ke-81 RI di Istana Negara.
Ilustrasi ekspor dan impor. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Ekonom menilai lobi yang dilakukan Pemerintah Indonesia terkait tarif Trump masih kurang maksimal. Pasalnya sampai saat ini belum ada hasil yang memastikan bahwa tarif 32% tersebut diturunkan.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto hanya mengungkapkan AS masih menunda pemberlakukan tarif impor 32%. Ini menjadi salah satu kabar dari upaya negosiasi kebijakan tarif Trump.
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Y. Sri Susilo mengatakan ini menjadi penundaan kedua yang dilakukan oleh AS. Menunjukkan masih adanya dinamika lobi antara Indonesia dan pemerintah AS.
Ia berpandangan lobi yang dilakukan saat ini masih kurang optimal, apalagi posisi Duta Besar RI di AS kosong. Diundurnya lagi penerapan tarif Trump untuk yang kedua kalinya ini menurutnya bisa menjadi sebuah kesempatan memperkuat tim lobi. Jika perlu dilakukan langsung oleh Presiden RI.
BACA JUGA: Kaesang Ingin Jadi Ketum PSI Lagi, Jokowi Mengaku Tak Percaya Diri
"Kalau perlu Presiden, tampaknya tidak cukup tim lobi Menko harus diperkuat," ucapnya, Selasa (15/7/2025).
Menurutnya jika tarif 32% benar diberlakukan akan membuat produk-produk Indonesia menjadi tidak kompetitif, termasuk produk dari DIY. Pesaing produk Indonesia seperti garment dari Vietnam dan negara lainnya dikenakan tarif lebih rendah.
Sri mengatakan, sebenarnya pengenaan tarif dalam perdagangan internasional adalah hal yang wajar. Namun jika tarifnya terlalu tinggi maka yang akan diuntungkan adalah pemerintah AS, sementara produsen Indonesia dan konsumen di AS yang akan dirugikan.
Sehingga pemerintah AS masih menimbang apakah keuntungan pemerintah AS lebih kecil dari total kerugian. Kondisi ini membuat pemerintah AS masih tarik ulur.
"Penundaan ini karena pemerintah AS masih memberikan ruang negosiasi, karena prinsip dagang itu saling membutuhkan," katanya.
Ketua Komtap Pembinaan dan Pengembangan Sekretariat Kadin DIY, Timotius Apriyanto mengatakan dalam menyiasati tarif Trump di negara maju punya dua strategi. Pertama adalah negosiasi dan kedua adalah menyiapkan tindakan balasan jika Trump tetap menerapkan tarif tinggi.
Sementara langkah yang dilakukan Indonesia, kata Timotius, masih lobi saja. Diharapkan bisa di bawah 20% atau minimal 20% sama dengan Vietnam. "Saya kira Indonesia belum ada keputusan cenderung lobi," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua pelajar DIY resmi diberangkatkan mengikuti pelatihan Paskibraka Nasional di Jakarta sebelum bertugas pada HUT Ke-81 RI di Istana Negara.
Pemerintah menyiapkan akses tol untuk Kawasan Industri Kendaraan Nasional di Subang guna mendukung manufaktur kendaraan listrik nasional.
BI dan pemerintah memperkuat GPIPS untuk mengendalikan inflasi pangan dan mengantisipasi dampak El Nino di berbagai wilayah Indonesia.
PGRI menyampaikan persoalan kekurangan guru di DIY hingga pengangkatan guru honorer saat audiensi dengan Wakil Gubernur DIY.
Bandara Husein Sastranegara kembali beroperasi mulai Agustus 2026 untuk melayani penerbangan domestik dan regional internasional.
BI mempertahankan BI Rate 5,75% pada Juli 2026. Airlangga berharap sektor riil dan pertumbuhan kredit tetap bergerak.