Ikuti Jejak JSMR, Astra Rambah Bisnis Operator Jalan Tol

Ikuti Jejak JSMR, Astra Rambah Bisnis Operator Jalan Tol
07 Januari 2019 14:10 WIB Rivki Maulana Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Astra Infra, sub holding PT Astra Internasional Tbk., di sektor infrastruktur mulai merambah bisnis solusi jalan tol di bawah naungan Astra Infra Solution.

Ekspansi ini diharapkan bisa memperkuat ekosistem industri jalan tol di Indonesia sehingga lebih menarik bagi investor.

Chief Astra Infra Solution (AIS), Krist Ade Sudiyono mengatakan pengembangan usaha dilakukan seiring dengan dinamika industri yang memunculkan investor-investor baru. Para investor tersebut, lanjut Krist tidak melulu fokus membangun dan mengoperasikan jalan tol.

"Ada yang hanya fokus develop. Ada juga yang hanya menjadikan jalan tol sebagai aset portofolio. Keduanya pasti membutuhkan operatorship," jelas Krist kepada Bisnis, Jumat (3/1).

Menurutnya, dengan pengalaman di bisnis jalan tol lebih dari 15 tahun, Astra Infra merambah bisnis solusi. Jasa ini antara lain mencakup pengelolaan pendapatan jalan tol, pengaturan lalu lintas, dan pengelolaan aset.

Untuk tahap awal, AIS berniat untuk menangani jalan tol yang sahamnya dimiliki oleh Astra Infra. Secara keseluruhan, portofolio Astra Infra di jalan tol kini sudah mencapai enam ruas sepanjang 353 kilometer. Partisipasi modal Astra Infra di enam ruas tol itu beragam, mulai dari 25% hingga 100%.

Krist menuturkan, per 1 Januari 2019, AIS sudah menangani operasional jalan tol Jombang—Mojokerto, ruas sepanjang 40,50 kilometer yang seluruh sahamnya dimiliki Astra Infra. Selanjutnya, AIS juga berencana menangani operasional jalan tol Cikopo—Palimanan dan Tangerang—Merak.

Menurut Krist, pihaknya juga melakukan penjajakan dengan para pemilik konsesi jalan di luar Grup Astra. Potensi pengelolaan ruas-ruas tol di luar Grup Astra cukup terbuka karena jumlah ruas tol bakal terus bertambah seiring dengan penyelesaian ruas-ruas baru.

Berdasarkan catatan Bisnis, PT Waskita Toll Road dan PT Hutama Karya menjadi dua pemain baru di jalan tol dengan panjang konsesi signifikan.

Waskita memiliki 18 konsesi jalan tol sepanjang 1.015 kilometer dengan porsi kepemilikan 15%—99%, sedangkan Hutama Karya mendapat penugasan untuk menggarap 11 ruas tol Trans-Sumatra sepanjagn 1.480 kilometer.

Krist mengatakan bahwa pengelolaan jalan tol oleh pihak ketiga bisa menjadi solusi bagi investor yang hanya fokus membangun jalan tol.

Investor, lanjutnya, bisa efisien tak perlu memiliki sumber daya manusia yang banyak untuk mengoperasikan jalan tol.

Berdasarkan pengalaman Astra Infra, katanya, dibutuhkan 400 orang untuk menangani operasional satu ruas jalan tol.

Pengelolaan jalan tol secara efisien, menurut Krist, bakal membuat semua kalangan diuntungkan, mulai dari investor hingga pengguna jalan tol.

"Kalau industri [jalan tol] efsien, ini akan menarik bagi investor dan proyek-proyek baru akan masuk dengan sendirinya," tutur Krist.

Bisnis Menggiurkan

Pengoperasian jalan tol kini menjadi bisnis yang menggiurkan seiring dengan selesainya proyek-proyek jalan tol.

PT Jasa Marga Tbk (JSMR), misalnya, kini memiliki anak perusahaan yang ditujukan untuk kepentingan tersebut.

Melalui PT Jasamarga Tollroad Operator, JSMR membidik sejumlah ruas tol milik badan usaha jalan tol untuk dioperasikan oleh anak usahnya tersebut, selain tol milik perseroan.

Sebelumnya, pada pertengahan 2018, Direktur Utama PT Jasa Marga Tollroad Operator Septerianto Sanaf mengatakan ruas yang dibidik pengoperasiannya yakni Cimanggis—Cibitung, Pasuruan—Probolinggo, Krian—Legundi—Bunder—Manyar, dan Kayu Agung—Palembang—Betung. Keempat ruas tol tersebut tengah dikonstruksi oleh PT Waskita Toll Road.

"Sistemnya, Waskita Toll Road kontrak ke kami untuk mengoperasikan tol-tol ini. [Sistemnya] fee. Ini masih dilakukan pembahasan dengan Waskita Toll," ujarnya kepada Bisnis, ketika itu.

PT Jasamarga Tollroad Operator merupakan anak usaha PT Jasa Marga Tbk. (JSMR) dengan komposisi saham 99,90% dimiliki oleh BUMN jalan tol tersebut dan 0,10% dimiliki oleh Induk Koperasi Karyawan Jasa Marga.

Kegiatan usaha PT Jasamarga Tollroad Operator (JMTO) meliputi pelayanan transaksi, pelayanan lalu lintas, dan pekerjaan lainnya yang menunjang kegiatan pengoperasian jalan tol.

"JSMR selaku induk ingin berkonsentrasi di bidang investasi sehingga urusan operasional jalan tol akan diserahkan kepada kami," katanya.

Septerianto menjelaskan bahwa JMTO telah mengoperasikan tol milik JSMR seperti Surabaya—Mojokerto—Pasuruan, Ngawi—Kertosono, dan ruas Medan—Kualanamu.

Selain itu, JMTO baru saja memperoleh pengoperasian tol milik PT Waskita Toll Road yakni ruas Bogor—Ciawi—Sukabumi.

"Ruas-ruas baru juga akan dioperasikan oleh kami. Sekarang secara bertahap di bidang pengumpulan dulu, di gerbang-gerbang tol dari Medan hingga Surabaya, itu kami semua, karyawan JMTO. Untuk ruas tol Cipali belum ada penjajakan," katanya.

Direktur Utama PT Waskita Toll Road Herwidiakto menuturkan bahwa perusahaan tidak berkeberatan apabila ruas tol yang telah dibangunnya dioperasikan oleh JMTO.

"Ya, asal kompetitif kan oke, saja. Sebenarnya kan menyerahkan scope kepada yang profesional," katanya, beberapa waktu lalu. (B)

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia