Kemenperin Ajak Jiffina Berkolaborasi secara Digital

Kemenperin Ajak Jiffina Berkolaborasi secara DigitalPengunjung melihat produk dan berbincang dengan peserta pameran dalam ajang Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2019 yang berlangsung di Jogja Expo Center, Bantul, Rabu (13/3). / JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto
14 Maret 2019 23:37 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTULJogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2019 yang akan berlangsung 13-16 Maret resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Gati Wibawaningsih yang mewakili Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jogja Expo Center, Bantul, Rabu (13/3). Kemenperin pun mengajak Jiffina untuk berkolaborasi secara digital pada gelaran tahun mendatang.

Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih yang mewakili Menperin Airlangga Hartarto mengatakan Jiffina merupakan pameran keempat yang masuk lingkaran pameran furnitur di Asia. Hal itu berarti pasar furnitur Indonesia sangat menarik bagi konsumen dunia. "Sehingga antusiasme buyer untuk mencari produsen furnitur terbaik di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun," kata dia dalam pembukaan Jiffina 2019 di JEC, Bantul, Rabu.

Ia mengatakan Pemerintah Indonesia telah menetapkan industri furnitur dan kerajinan sebagai salah satu industri potensial seusia dengan kebijakan industri nasional yang ditetapkan pada 2015 hingga 2019. Hal ini didukung bahan baku yang melimpah seperti kayu dan rotan.

Data dari Badan Pusat sektor furnitur dan kerajinan tunjukkan kinerja positif. Pada 2018, ekspor furnitur mencapai US$1,690 miliar atau naik 4% dibanding 2017. Namun, kinerja ekspor itu dinilai masih kecil dibanding potensi bahan baku yang ada. "Diharapkan industri furnitur bisa berperan lebih besar lagi untuk perekonomian nasional dengan target ekspor menjadi US$5 miliar. Semoga teman-teman yang ikut pameran di sini bisa memberi kontribusi teradap pencapaian target itu," kata dia.

Untuk meningkatkan kinerja ekspor, harus didukung dengan program pembinaan dan iklim yang kondusif. Menurutnya, pelaku usaha tidak membutuhkan aturan atau regulasi yang bermacam-macam. Namun, pemerintah tetap menjaga keberlangsungan usaha mereka misalnya Kemenperin memberikan pelatihan dan bimbingan teknik.

Ia juga menyoroti pendaftaran peserta pameran pada Jiffina. Ia mengajak Jiffina untuk berkolaborasi denan Kemenperin untuk melakukan registrasi secara online sesuai semangat revolusi industri 4.0 dan untuk mempermudah mendata potensi pelaku usaha yang ada.

"Pendaftaran diharapkan online sekalian untuk mengenalkan dunia digital karena kita akan dapat datanya secara real time. Kalau ada data yang jelas terhadap pelaku akan ketahuan secara riel kebutuhan mereka itu sebenarnya apa. Tahun depan kami harap ada kolaborasi Jiffina dan Kemenperin. Agar punya data," kata dia. 

Peningkatan Transaksi

Sekretaris Daerah Pemda DIY Gatot Saptadi yang mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku Pemda DIY memberikan apresiasi yang tinggi atas terlaksananya Jiffina 2019. Ia berharap pameran ini bisa meningkatkan nilai transaksi dan nilai jual produk peserta pameran.

"Kami menyadari investasi daerah dipahami sebagai salah satu kekuatan penting untuk akselerasi pembangunan daerah di mana hal itu dimungkinkan jika ada arus investasi yang signifikan," kata dia.

Ia menyebutkan pentingnya investasi ini mendorong pemerintah melakukan upaya melalui promosi, investasi, dan perdagangan.Pertumbuhan ekonomi DIY di atas rata-rata nasional dan ini menjadi peluang yang digunakan untuk promosi, investasi, dan perdagangan.

"Untuk membangun ekonomi daerah perlu identifikasi keunggulan potensi daerah, potensi pasar, dan kebutuhan strategis terhadap pembangunan daerah itu sendiri dengan pengembangan pasar melalui promosi, publikasi, dan dampak pameran yang dilakukan ini," kata dia.

Menurutnya, Jiffina merupakan wadah promosi efektif bagi produk komoditas unggulan khususnya industri mebel dan kerajinan yang berorientasi ekspor dari perusahaan di Jawa dan Bali. Pameran ini kesempatan yang baik untuk membangun kembali dan meningkatkan pelaku usaha dalam pengelolaan organisasi usaha, pengelolaan pemasaran, dan pengembangan bentuk jejaring yang mungkn bisa dikembangkan dalma pendekatan usahanya.

Ketua Committee Jiffina 2019 Endro Wardoyo mengatakan per 10 Maret pukul 24.00 WIB, ada 910 buyer dari luar negeri yang mendaftar. Untuk visitor lokal yang sudah teregistrasi sebanyak 1.200 orang. Tahun ini, jumlah buyer luar negeri meningkat menjadi 910 dari sekitar 48 negara. Buyer dari negara baru pun bermunculan pada pameran kali ini. Hal ini menunjukkan Jiffina sudah memiliki daya pikat bagi buyer.

"Ada negara baru seperti Burundi, Skotlanda, Lebanon, beberapa negara Eropa, negara eks Uni Soviet seperti Belarus. Amerika juga ada yang baru yakni Puerto Rico. Tahun lalu ada 890 buyer dari 40 negara," kata dia.

Ia mengatakan jumlah peserta juga mengalami kenaikan dari 280 menjadi 300. Peningkatan hanya 20 peserta karena keterbatasan lokasi pameran. "Pada pameran kali ini kami targetkan ada kenaikan transaksi selama pameran. Kalau tahun lalu transaksi US$ 64 juta, tahun ini naik menjadi US$70 juta hingga US$80 juta," kata dia.

Kenaikan target transaksi selama pameran didasarkan pada beberapa hal. Faktor itu yakni ada kenaikan jumlah peserta, situasi perekonomian di negara maju dinilai cukup baik, serta jumlah buyer yang meningkat.

Wakil Ketua I Bidang Organisasi Kadin DIY Gonang Djuliastono mengaku pameran memang harus diselenggarakan. Tujuannya untuk melihat kemampuan IKM untuk memberikan sesuatu yang berbeda. "Melalui pameran mereka menjadi tahu tren. IKM juga diharapkan tidak hanya mengikuti pameran di tingkat daerah, tetapi juga nasional dan internasional agar wawasan makin terbuka luas," ujar dia.

Komunikasi dengan sesama perajin juga perlu. Tujuannya agar mereka mampu menjalin jaringan kerja yang semakin luas.