Kota Jogja Prospektif, Peta Wisata Kuliner & Belanja Mendesak Dikembangkan

Kota Jogja Prospektif, Peta Wisata Kuliner & Belanja Mendesak Dikembangkan Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja, Kemenpar, Virginia Kadarsan (kanan) saat menjadi pembicara Forum Group Discussion (FGD) Penyusunan Desain Strategis dan Rencana Aksi (DSRA) Wisata Kuliner dan Belanja Kota Yogyakarta, di hotel The 101 Yogyakarta, Kamis (9/5)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
10 Mei 2019 11:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pembuatan Desain Strategis dan Rencana Aksi (DSRA) guna pengembangan wisata kuliner dan belanja atau gastronomi dan belanja Kota Jogja, dengan Forum Group Discussion (FGD), di hotel The 101 Yogyakarta, Kamis (9/5).

Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja, Kemenpar, Virginia Kadarsan mengatakan Kota Jogja memiliki potensi yang besar yang belum tergali semuanya dalam wisata gastronomi atau wisata perjalanan yang berhubungan dengan makanan suatu daerah dengan tujuan rekreasi. Hal lain yang perlu menjadi perhatian untuk pengembangan ini, Dinas Pariwisata (Dispar) perlu bersinergi dengan lintas dinas.

Menurutnya, saat ini makanan telah menjadi gaya hidup tidak hanya agar kenyang. Kunci lainnya yaitu produk lokal agar menarik wisatawan, kemudian budaya dan sejarah Jogja dinilai memiliki itu sudahan. “Cerita dibalik makanan, dari cerita ini orang mau datang. Lalu nutrisi dan kesehatan,” ucap Virgina. Jadi mereka punya pengalaman dengan hal-hal itu,” ucap Virginia, Kamis (9/5).

Tren dalam wisata gastronomi dunia saat ini dikatakannya ada beberapa di antaranya street food, home cooking & meal sharing, cooking lesson with local. Dengan itu semua wisatawan dapat berinteraksi dengan penduduk lokal dan belajar hal baru. Meski dalam promosi wisata hanya akan ada dua-lima kuliner yang akan dipromosikan, dan harus iconic tetapi kuliner lainnya dipastikan tidak akan tertinggal.

Untuk kegiatan wisata belanja sendiri ada beberapa hal menurutnya dengan mengunjungi pabrik, festival belanja, melakukan kunjungan usaha kecil menengah (UKM), belajar membatik menenun, memahat atau yang lainnya dan window shopping.

 

Megaproyek Joglosemar

Adanya megaproyek Joglosemar menurutnya juga akan menunjang pengembangan wisata ini, karena jika dilihat kewilayahan berdekatan tetapi masing-masing mempunyai keunikan yang nantinya dapat terjalin sinergitas, antardaerah itu. Dicontohkannya Semarang juga memiliki keunikan banyak akulturasi dengan Tionghoa.

Kepala Bidang Area Jawa Timur dan DIY Regional II Kemenpar, Widayanti Bandia mengatakan sektor kuliner dapat mendatangkan penghasilan yang besar. Dibutuhkan desain untuk menentukan ikon kuliner Jogja. “Salah satu tujuan orang ke Jogja karena kuliner dan oleh-oleh,” ucapnya.

Widayanti berharap dengan FGD ini dapat ditentukan desain strategi ikon kuliner dan wisata belanja di Jogja, mulai dari akses, atraksi yang ditawarkan, selain itu perlu didiskusikan tentang cara pemasaran atau amenitas tentang bagaimana sarana dan fasilitas untuk mempromosikan produk kuliner dan atraksinya.

Kepala Dispar Jogja, Maryustion Tonang mengatakan Kota Jogja sebagai kota tujuan wisata yang berbasis budaya memiliki potensi besar. Salah satunya sektor kuliner itu sendiri merupakan bagian dari budaya, contohnya pasar-pasar tradisional.

“Kami punya mimipi bagaimana ke depan pasar tradisional ini selain sebagai pusat ekonomi juga sebagai media edukasi dan pariwisata,” ucapnya.