GM ADISUTJIPTO JOGJA : Terbang Menggapai Awan

GM ADISUTJIPTO JOGJA : Terbang Menggapai AwanGM Bandara Internasional Adisutjioto Jogja, Kol.(pnb) Agus Pandu Purnama/ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
25 Juni 2019 12:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Berawal saat duduk di bangku kelas XI SMA dan mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat yaitu Gunung Cerami, General Manager Bandara Adisutjipto, Kol.(pnb) Agus Pandu Purnama menancapkan cita-citanya ingin lebih tinggi dari puncak gunung itu. 

“Saat saya mendaki dan sampai di puncak tertinggi di Jabar, saya belum puas karena saya ingin lebih tinggi lagi dari puncak ini, yaitu menggapai awan. Saya bilang begitu,” ucap Pandu, kepada Harian Jogja, Senin (24/6).

Hal itulah yang memotivasinya untuk menjadi penerbang. Akhirnya saat ada tes Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), ia pun mengikuti berbagai rangkaian tes yang ketat dan akhirnya benar ia bisa diterima di Akademi Angkatan Udara (AAU). Setelah menjalani proses ia mengikuti sekolah penerbangan TNI AU.

“Dari penerbang itulah dapat melihat daratan dari ketinggian tertentu, dan di situlah saya merasakan bahwa Gusti Allah yang ada di atas sana itu melihat kita kecil sekali. Ada faktor religinya setelah kita terbang. Kita mesti bersyukur,” ucap pria kelahiran Indramayu, 9 Agustus 1968 itu.

Saat menjadi penerbang, muncul keinginan Pandu yang lain, yakni melihat berbagai keberagaman di Indonesia. Baik dari Sabang sampai Merauke ia telusuri saat menerbangkan helikopter yang notabenya dapat menjangkau hingga pelosok. Tidak hanya itu, ia juga pernah berkesempatan menerbangkan helikopter kepresidenan di masa Gus Dur dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pria yang memiliki hobi jalan kaki dan golf itu mengaku salah satu pengalaman yang berkesan yang pernah ia alamai dalam kariernya yaitu saat menjadi Danlanud di Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sana ia merasakan rasa kekeluargaan yang sangat kental saat bekerja sama dengan muspida setempat.

Selain itu pengalaman saat menjadi Asisten Operasi Kosek Hanudnas 2 Makassar, Sulawesi Selatan menjadi kenangan tersendiri baginya. Misalnya saja , mem-push down pesawat sipil yang melanggar kedaulatan negara. Kala itu, kata dia, ada sebuah pesawat yang masuk ke Dili tanpa izin ke Indonesia. Meski sempat kecolongan, pasukan RI berhasil menyanggong pesawat asing itu dengan Sukoi. Burung besi tak dikenal itu pun dipaksa mendarat di Lanud Hasanuddin, Makasar. “Pertama kalinya untuk saat itu Indonesia memaksa turun pesawat asing,” ucapnya.

Tak berapa lama, secara berturut-turut Pandu diminta menjabat sejumlah posisi. Seperti menjadi Kepala Keselamatan Terbang dan Kerja Koops AU 1; Asisten Personel Koops AU 1; Komandan Korsis Sesko AU, dan sebelum menjadi general manager (GM) ia menjabat sebagai Kepala Pusat Olah Yudha atau pelatih yang merencanakan perang termasuk melatih pasukan gabungan. 

Adisutjipto Jogja

Pandu mengaku tak berencana mencalonkan diri menjadi GM. Dirinya menuturkan jika keikutsertaannya menjadi peserta seleksi GM hanyalah sebagai pelengkap. Sebab peserta seleksi GM seharusnya tiga orang, tetapi saat itu baru dua orang yang mendaftar. Bahkan, dia sempat ditahan oleh komandannya agar bertahan di Olah Yudha. Namun restu akhirnya diberikan lantaran keikutsertaannya sebatas formalitas. “Namun yang diterima justru saya. Kini setelah menjabat, yang jelas apa yang saya hadapi akan dihadapi dengan serius. Saya memang sudah punya niatan mengembangkan bandara Adisutjipto menjadi lebih baik,” katanya.

Setelah menjabat sebagai GM, Pandu menyadari harus mengubah gaya kepemimpinannya, karena yang dipimpin bukan di militer tetapi perusahaan sipil. “Di dunia militer rantai komado sama, A dari atas ke bawah tidak boleh lepas. Harus A tidak boleh A aksen. Namun di AP tidak bisa seperti itu, ada usulan A aksen saya lihat ya bolehlah ada perubahan sedikit dari awal selama menjadi inovasi ide lebih baik, saya mendukung,” ujarnya.

Gaya kepemimpinanya saat ini adalah memberikan ruang inovasi. Dengan langkah ini, Pandu menjamin lingkungan kerja akan menjadi kondusif. Jika tidak, kata dia, bawahan merasa tertekan saat bekerja dan sekadar asal-asalan.

Mendapatkan performa yang baik tak mudah didapatkan. Dia mengaku untuk mendapatkannya harus melalui proses panjang. Contohnya dengan proses pembinaan yang intensif, menciptakan suasana kerja santai tetapi serius dan selalu mengontrol perkembangan. Hasilnya? Setiap tahun jumlah penumpang mengalami kenaikan 13% dan pendapatan naik 10%.

Menurutnya, pencapaian tersebut tak lepas dari pengalamannya saat menjadi Kepala Pusat Olah Yudha. Tepatnya, saat dia sering merencanakan perang kemenangan. Ilmu inilah yang dibawa ke dunia komersial. “Intinya tidak boleh merencanakan kalah perang. Kekalahan itu berawal dari perencanaan yang tidak sempurna, yang sembarangan. Tidak disertai evaluasi atau melihat histori sebelumnya. Di dunia militer, kami belajar memenangkan perang tanpa perang, tanpa adu fisik hal seperti itu bisa dilakukan,” ujarnya.

Target di militer dan komersil tentu sangat berbeda. Misalnya, harus mencapai target finansial tertentu. Sebuah pencapaian yang tak pernah dipikirkannya selama berada di lingkup TNI.  Kendati demikian, dia menjalani semua dengan senang hati. Justru semua ini membuat hari-harinya menjadi lebih hidup.  “Dukanya mungkin jauh dari keluarga, karena mereka di Jakarta. Seperti halnya saat kumpul-kumpul Lebaran kemarin, saya tidak ada [bersama keluarga] karena harus memastikan pelayanan bandara baik,” ujarnya. 

Kunci Sukses

Setidaknya ada beberapa hal yang dipegang Pandu dalam menjalani profesinya, pertama amanah, yang artinya bertanggung jawab. Kedua, ikhlas dengan begitu tidak akan mengeluh. Ketiga, harus memberi nilai tambah. “Di manapun kita ditempatkan menjabat harus punya nilai tambah, tidak hanya diri sendiri tetapi juga lingkungan, karyawan, perusahaan termasuk masyarakat,” ujarnya.

Yogyakarta International Airport (YIA), kata dia, diharapkan menjadi paling ramai. Sebab dia melihat Jogja memiliki destinasi wisata yang sangat lengkap dan dirasa melebihi Bali. Kendati berpotensi besar, seluruh komponen masyarakat memiliki visi sama untuk meningkatkan hidup masyarakat di Jogja melalui wisata. Dia berharap Jogja menjadi kota terindah di Indonesia dan destinasi utama dengan peran serta pemerintah daerah dan komponen yang ada, baik  Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan masyarakat.

“Kalau harapan karier, saya ini bagai air mengalir saja sesungguhnya. Namun jika di dunia TNI, pengin dong jadi panglima TNI, apalagi masih aktif juga saat ini atau menjadi marsekal. Sedangkan di lingkungan perusahaan, inginlah menjadi dirut memajukan Angkasa Pura (AP) 1 supaya jadi kebanggan BUMN, menjadi pelayan untuk customer moda transportasi udara paling prima. Satu lagi, jangan lupa untuk lingkungan bandara sebagai perusahaan itu sendiri, yakni menyejahterakan. Jangan sampai dapat uang banyak tetapi lingkungan miskin, tertinggal. Harus dikikis itu,” katanya.