Advertisement
Dorong Marketplace Musik di Kawasan Asia Tenggara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan industri musik di Asia Tenggara sangat pesat, ditandai dengan kemunculan berbagai entitas yang bergerak dalam ranah pendidikan atau edukasi musik. Sayang, pergerakannya masih serampangan. Kiranya perlu dibuat marketplace untuk mewadahi serta menjembatani relasi antara industri dan edukasi musik di Asia Tenggara.
SEAMEX 2019 Indonesia Secretariat April S. mengungkapkan dalam konteks itulah pada 6-8 September 2019, bertempat di Jogja National Museum, akan diselenggarakan perhelatan akbar musik Se-Asia Tenggara (ASEAN) bertajuk Southeast Asia Music Education Exchange atau SEAMEX 2019. Acara yang melibatkan 10 negara ASEAN ini akan menyajikan beragam agenda mulai dari pertunjukan musik, konferensi, music talk, hingga pameran sebagai sarana pertukaran informasi tentang musik antarmusisi dan para pegiat musik di kawasan Asia Tenggara.
Advertisement
Sebelumnya, acara ini diselenggarakan di Malaysia pada 2017 dan di Thailand pada 2018, SEAMEX 2019 Indonesia mengusung tajuk Music, Sphere, and Interconnected Generations. Tajuk tersebut sejalan dengan visi SEAMEX sebagai platform pertukaran edukasi musik pertama di Asia Tenggara.
"Selama tiga hari, SEAMEX 2019 akan menghadirkan pameran dagang oleh lembaga musik, pemasok produk dan layanan, lembaga pemerintah serta LSM. Lebih dari 1.200 pegiat musik dari negara-negara di Asia Tenggara akan berkumpul untuk berbagi ide, mengeksplorasi peluang, dan membangun jaringan yang solid. Sejumlah perwakilan negara lain di luar Asia Tenggara juga diundang untuk berpartisipasi," ujar dia dalam rilisnya, Senin (12/8).
Sebagaimana helatan permusikan, tak lengkap rasanya bila SEAMEX 2019 tak diisi dengan pertunjukkan musik yang menampilkan karya musisi dari beragam genre musik dan negara. Selain itu, SEAMEX 2019 juga menghadirkan sesi-sesi lokakarya profesional, pertunjukan bakat, demonstrasi produk dan pelatihan. Salah satu yang spesial dari SEAMEX 2019 kali ini adalah persembahan ASEAN Youth Choir & Orchestra yang sebuah proyek kolaborasi musik internasional. Kolaborasi ini akan mempertemukan pasa musisi muda dari kawasan Asia Tenggara untuk bersama-sama bekerjasama membangun harmoni dengan menghadirkan sajian musik yang akan ditampilkan pada SEAMEX 2019.
Alih-alih dibayar, setiap pihak yang terlibat dalam pagelaran ini termasuk penampil, pemateri konferensi dan music talk, hingga para peserta pameran justru harus merogoh kocek untuk berpartisipasi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada khalayak musik seperti musisi, akademisi, maupun individu serta lembaga yang berkutat dengan musik.
Edukasi Investasi
Secara khusus, edukasi yang dimaksud oleh SEAMEX kali ini berkenaan dengan perlunya investasi. Hal ini dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan pendidikan dan industri musik. Investasi itu mewujud dalam bentuk biaya pendaftaran untuk mengikuti rangkaian acara SEAMEX. Hitung-hitung, hal ini sekaligus menjadi usaha untuk mematahkan stigma.
SEAMEX 2019 adalah wahana belajar untuk memahami korelasi antara musik, edukasi, dan industri. Untuk yang disebut terakhir, tak dapat dimungkiri bahwa industri berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan menghidupi para musisi.
Sebagai contoh, pelaku usaha kecil yang menjadi partisipan SEAMEX belum tentu akan laris menjual produknya selama gelaran tersebut. Namun, di sisi lain ia bisa mendapatkan keuntungan banyak dalam bentuk lain. Jaringan dan relasi baru di tataran internasional tak dimungkiri akan menjadi benefit yang diperoleh. Harapannya dengan jaringan baru, para pelaku UMKM musik bisa mengembangkannya, sehingga bukan tak mungkin benefit finansial akan mampir ke kantong para pelaku UMKM tersebut. Artinya dengan membangun jaringan, dalam jangka panjang akan ada kerjasama yang menghasilkan nominal finansial.
Dirancang sebagai marketplace, SEAMEX 2019 fokus menyoroti bakat mahasiswa musik dan bakat fakultas musik di Asia Tenggara. Fungsinya sebagai jembatan lintas generasi sehingga semuanya bisa berkumpul di dunia musik dengan penuh kebahagiaan.
“Ini karena musik sebagai fitur universal dari pengalaman manusia mampu mengisi kesenjangan generasi. Musik bisa menjelajahi wilayah yang tidak diketahui dan mengatasi tantangan bersama. Ujung dari semuanya adalah untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang lebih terkoneksi dan makmur,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Setoran Dividen BUMN untuk APBN Dialihkan ke Danantara, Kementerian Keuangan Putar Otak
- Nilai Investasi Pabrik Kendaraan Listrik di Indonesia Tembus Rp15,1 Triliun
- Asosiasi E-Commerce Diajak untuk Mencegah Perdagangan Ilegal Satwa Liar
- Serapan Tenaga Kerja DIY Capai 34.950 Orang dalam Setahun
- Pengin Menabung di Deposito? Berikut Bunga Deposito BCA, Mandiri, BNI, dan BRI Terbaru
Advertisement

Dampak Hujan dan Angin Kencang di Sleman, Pohon hingga Bangunan Pagar Roboh
Advertisement

Jembatan Kaca Seruni Point Perkuat Daya Tarik Wisata di Kawasan Bromo
Advertisement
Berita Populer
- Hari Ini Harga Emas Antam Turun Tipis, Jadi RpRp1.956.000
- Rocketindo:Lebih dari Sekadar Marketing Agency, Penyedia Layanan Omni Channelyang Mendorong Kesuksesan Brand di Indonesia
- Tak Ingin Ada Diskriminasi Usia dalam Rekrutmen Tenaga Kerja, Menaker Bakal Sisir Aturan Batasan Usia
- Pemerintah Pusat Siapkan Inpres Infrastruktur untuk Bantu Daerah
- Setoran Dividen BUMN untuk APBN Dialihkan ke Danantara, Kementerian Keuangan Putar Otak
Advertisement