Kenapa Sejumlah Hotel Beramai-ramai Cabut dari Jaringan OYO?

Kenapa Sejumlah Hotel Beramai-ramai Cabut dari Jaringan OYO?OYO Hotels & Homes - Istimewa
11 Oktober 2019 18:37 WIB Hadijah Alaydrus Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Mitra Oyo Hotels and Homes (OYO), startup yang menawarkan penginapan bagi wisatawan kelas menegah, mengeluhkan kenaikan biaya bagi hasil yang ditetapkan sepihak.

Keluhan ini berasal dari 10.000 pemilik hotel di India yang bermitra dengan OYO. Menurut para mitra OYO, perusahaan sering kali menurunkan harga di tengah kondisi ekonomi yang melambat.

Bahkan, OYO membebani hotel dengan biaya waralaba sekitar 20 persen untuk pendapatan kamar ketika hotel bergabung dengan jaringannya.

Namun, beberapa operator hotel India lainnya mengatakan startup yang didukung oleh Softbank tersebut sering kali mengambil biaya waralaba hampir setengahnya atau lebih. Umumnya, tindakan ini tidak dicantumkan dalam perjanjian sebelumnya.

Seperti diketahui, Softbank telah menginvestasikan lebih dari US$1 miliar di OYO melalui Vision Fund. OYO hingga saat ini belum membukukan keuntungan.

Sebulan yang lalu, perusahaan harus menghadapi tuntutan dari asosiasi yang mewakili operator hotel di Bengaluru atas tuduhan penahanan dana akibat kenaikan biaya yang tidak adil.

Hal yang sama dilakukan oleh dua hotel di bagian utara Karnataka. Keduanya melaporkan Oyo atas keputusan kenaikan komisi yang dilakukan secara sepihak. Tidak tanggung-tanggung, dua hotel tersebut menuduh CEO OYO Ritesh Agarwal melakukan penipuan.

Namun, Agarwal berhasil mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Karnataka untuk satu kasus di Bengaluru.

OYO membantah tuduhan itu dan mengatakan Agarwal menolak mengomentari pengaduan hukum tersebut. Perusahaan mengklaim selalu mendorong integritas, transparansi dan komitmen tinggi dengan para mitranya.

Agarwal mengatakan operator hotel yang telah mengajukan keluhan mewakili sebagian kecil dari jaringan OYO dan berusaha untuk mendorong harga lebih tinggi dengan mengorbankan konsumen.

“Secara tahunan, OYO dapat mempertahankan 99 persen dari pemilik asetnya. Jika, misalnya, orang tidak senang, tingkat retensi kami akan lebih rendah,” kata Agarwal kepada Reuters.

Sementara itu, Softbank yang memiliki 45% saham di OYO menolak mengungkapkan pernyataan terkait kasus ini. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia