Atasi Kemiskinan, Masyarakat Harus Jeli Lihat Peluang

Atasi Kemiskinan, Masyarakat Harus Jeli Lihat PeluangIlustrasi. - Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
29 Oktober 2019 09:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mengatasi persoalan kemiskinan bukan sekadar menurunkan angka kemiskinan. Masyarakat juga harus jeli melihat peluang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. 

Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda DIY Endang Patmintarsih mengungkapkan masyarakat harus menyadari potensi lokal di daerah mereka. Ia mencontohkan saat ini sedang ada pengembangan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo. "Untuk meningkatkan perekonomian, masyarakat juga harus punya greget untuk maju. Mereka harus paham peluang apa yang bisa mereka tangkap di sana," kata dia, Senin (28/10).

Kejelian itu dibutuhkan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Endang mewanti-wanti masyarakat agar jangan sampai justru para pendatang yang memanfaatkan potensi tersebut.

"Pemda juga membantu melalui program untuk pemberdayaan masyarakat untuk menyiapkan akses dan menangkap peluang-peluang. Ada sosialisasi dengan masyarakat soal pembangunan, misalnya YIA. Mereka harus diberi pengetahuan dan skill. Beri akses ke mereka karena kadang masyarakat bingung aksesnya ke mana dan apa yang harus dilakukan," jelas dia.

Selain mendorong masyarakat. Pemerintah juga mendorong penyaluran corporate social responsibility (CSR) agar sejalan dengan program pengentasan kemiskinan oleh Pemerintah. "Ini pemahaman yang harus diberikan ke CSR. Mereka harus masuk di mana agar disesuaikan dengan program Pemerintah agar tidak jalan sendiri-sendiri," tutur dia. 

Persentase Menurun

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pada Maret 2019, persentase penduduk miskin di DIY tercatat sebanyak 11,70% atau turun 0,11 poin dibandingkan kondisi September 2018. Kepala BPS DIY JB Priyono mengatakan untuk Maret 2019, garis kemiskinan di DIY adalah Rp432.026 per kapita per bulan. Garis kemiskinan tersebut meningkat 4,13% dari kondisi September 2018 yang besarnya Rp414.899 per kapita per bulan.

Pada Maret 2019, garis kemiskinan makanan tercatat sebesar Rp310.947 per kapita per bulan dan kontribusinya terhadap garis kemiskinan sebesar 71,97%. Sementara, pada saat yang sama, garis kemiskinan non-makanan sebesar Rp121.079 per kapita per bulan dan berkontribusi sebesar 28,03% terhadap garis kemiskinan.

Ia mengungkapkan pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin di DIY sebanyak 448.470 orang atau 11,70% terhadap total penduduknya. Angka ini menunjukkan terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 1.780 orang dibandingkan dengan kondisi September 2018, yang jumlahnya mencapai 450.250 orang.