PR Dunia Pariwisata di Jogja Masih Panjang, Apa Saja?

PR Dunia Pariwisata di Jogja Masih Panjang, Apa Saja?Pelancong menikmati suasana kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang lengang seperti terlihat pada Senin (29/05/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
20 November 2019 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelaku wisata mengharapkan sejumlah perbaikan untuk memaksimalkan kunjungan wisatawan pada libur akhir tahun nanti. Keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) pun menjadi tumpuan untuk industri pariwisata pada 2020. 

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, seperti akses baik darat dan udara, kemudian standar dan jumlah akomodasi, serta standardisasi dan pelayanan destinasi.

“Optimistis meningkat, perbaikan infrastruktur [jalan tol] dan kapasitas Yogyakarta International Airport harus menjadikan supporting kenaikan kunjungan wisatawan di akhir tahun,” kata Bobby, Selasa (19/11).

Dia mengatakan seharusnya operasional YIA dapat mendongkrak jumlah wisatawan. Namun hal tersebut menurutnya tergantung pula sejauh mana daya tarik wisata di Kota dan Kabupaten di DIY, untuk menjadi penyeimbang sehingga mampu menarik wisatawan setelah mengunjungi Borobudur. Sebab bagaimanapun Borobudur masih menjadi daya tarik utama wisatawan berkunjung ke Jogja Solo Semarang (Joglosemar).

Saat ini, pelaku wisata masih menghadapi sejumlah tantangan seperti kondisi lalu lintas, kemacetan, regulasi dan tarif parkir terlalu mahal, daya dukung masing-masing pihak. “Monitoring high season pricing agar tidak menjadikan aji mumpung dan memberikan kenyamanan untuk wisatawan,” katanya.

Diharapkannya, wisata di DIY dapat menyajikan produk dan pelayanan yang berstandar internasional road to 2025 Jogja menjadi destinasi terkemuka di Asia Tenggara.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengharapkan  pemerintah untuk menggalakkan promosi destinasi lebih intensif sembari memperhatikan pangsa pasar yang ada serta kegiatan-kegiatan skala nasional dan internasional ditarik ke DIY, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Diungkapkan oleh Deddy, tantangan ke depan mengelola hotel semakin berat, dengan adanya kenaikan upah minimum provinsi (UMP), BPJS dan lain sebagainya. Otomatis situasi tersebut sangat memengaruhi beban biaya operasional, sementara harga jual kamar belum bisa menyesuaikan dengan beban biayanya. “Hal tersebut karena, kue-kue yang diperebutkan masih sedikit menjadikan persaingannya juga ketat. Kami berharap hadirnya YIA memberikan angin segar bagi kita,” katanya.